Suka Duka Penyiar

•April 2, 2008 • Leave a Comment

Lika Liku Menekuni Profesi Sebagai Penyiar (Dibuat Tahun 2005)

Tolak Dekat Secara Personal, Biarkan Fans Berkhayal

Broadcaster adalah salah satu pekerjaan yang penuh tantangan. Tak perlu kesempurnaan fisik, sebab wajah menjadi faktor kesekian. Otak serta suara khas dan unik sangat diperlukan untuk menghibur pendengar setia radio yang anteng selama berjam-jam. Dengan wajah yang tak terlihat, memang terkadang menjadi penyiar akan menemui hal-hal yang menarik. Terutama soal fans. Bagaimana mereka menjalani dan menikmati professi ini?
UDARA dingin di dalam ruangan siaran Prapanca FM, seakan menusuk tulang. Namun se-sosok perempuan manis tampak anteng saja mengutak-atik alat elektronik Radio Computing System (RCS) berada didepannya. Dua buah pengeras suara berwarna oranye berada di atas meja berwarna kuning. Plus dua headset yang tergeletak di samping mike.
“Masuk dan silakan duduk, kita ngobrolnya sambil saya siaran aja ya. Kebetulan ini lagi program news hour 9,51 FM,” ujar Hana Pangaribuan, penyiar Pranpanca FM Trijaya Network petang kemarin (17/3). Dengan dandan alami no make up, bahkan terkesan tomboy dengan balutan kemeja longgar, perempuan yang sempat mengenyam bangku kuliah di Fakultas USU ini punya suara yang patut diacungi jempol. Susah memang dilukiskan, suaranya sedikit berat tapi nyaman kalau terdengar di telinga.
Selanjutnya perempuan yang kocak dan sedikit subur ini mengatakan menjadi penyiar adalah pekerjaan yang sangat menyenangkan walau ada kalanya setiap penyiar dituntut menjadi orang sempurna. “Karena kita pintar di depan mike, orang berpikiran kita sempurna secara fisik. Menganggap kalau perempuan selalu cantik,” tukasnya.
Untuk itu, kata Hana, dirinya juga penyiar Prapanca lainnya berusaha untuk tidak terlalu dekat secara personal dengan pendengar atau fans. “Makanya, aku itu lebih baik membiarkan mereka berkhayal tentang penyiar yang sempurna. Dan kalau bisa menolak untuk tidak bertemu. Karena, tidak enak mengecewakan pendengar kalau ketemu dengan kita yang lain dengan gambarannya,” jelasnya.
Ada satu pengalaman unik Hana dua tahun lalu. Seorang pendengar radio yang penasaran dengan dirinya. “Ada seorang bapak umur 60 tahunan, dia pelukis katanya dia sangat ingin ketemu saya. Katanya dia sangat ingin melukis saya yang digambarannya adalah wanita anggun. Tapi tahu gak apa yang terjadi? Waktu dia datang dan saya dengan apa adanya menemui dia. Eh bapak itu tadi tidak sampai lima menit pun pulang. Dan gak jadi melukis juga,” kenangnya. Itu juga, sambung wanita yang sudah menikah tersebut menjadi pengalaman yang membuatnya untuk tidak mau terlalu dekat dengan fans.
Hana sendiri menceritakan awal menjadi penyiar memang sudah menjadi keingin lama. “Saya ini pendengar maniak radio, sekaligus juga pemburu kuis (quiz hunter). Dan lucunya saya sering menang. Akhirnya timbul keinginan untuk ikut siaran. Kayak mana siaran dan enak kali kayaknya jadi penyiar,” ceritanya.
Tahun 1996, Hana melamar di Prapanca. Baru satu tahun berikutnya, tepat tanggal 5 April 1997 dirinya siaran. Itu pun Hana melamar saat penutupan lowongan kerja tinggal hitungan hari. Bersama 300 pelamar, Hana lolos menjadi 8 penyiar yang diterima. “Ada hal yang lucu, karena ujian atau tes untuk lulus sangat memakan waktu yang lama, mulai dari tes suara, tes pengetahuan musik, psikotes. Hingga akhirnya tes terakhir, tim penguji bertanya apa ada yang ingin ditanyakan? Aku langsung katakan, kapan ujian lagi?,” ujarnya sambil tertawa mengingat wajah penanya yang kebingungan.
“Di sini (Prapanca, Red) kita memang di-tranning untuk mengenal banyak hal dan benar-benar mengerti tentang siaran. Dan siaran saya pertama adalah bersama Ebet Kadarusman hubungan langsung dari Jakarta. Setelah itu bisa ditebak ini memang dunia saya dan saya memang menjiwai ini dan pekerjaan ini saya lakukan dengan sepenuh hati dan jiwa saya memang ada disini,” papar anak kelima dari enam bersaudara tersebut.
Sebagai perempuan, pulang pagi atau dini hari bahkan tidak pernah libur adalah hal yang biasa. “Gak masalah, pulang pagi dan masuk jam 5 pagi. Hal yang biasa. Ya itu tadi, karena jiwa kita sudah ada di pekerjaan ini,” tandas perempuan yang juga punya profesi menjadi dubber dan MC di luar kepenyiarannya itu.
Soal gaji, Hana pun punya kenangan sendiri. Gaji pertamanya sebesar Rp100 ribu, didapat dari Rp80 ribu gaji plus Rp20 ribu bonus operator dan ditambah dengan teh manis dingin. “Gaji pertama saya itu, percaya atau gak langsung saya belikan tali pinggang seharga Rp98 ribu. Sisa dua ribu, saya dan teman-teman belikan donut. Tapi tau gak yang buat saya kesel. Beberapa waktu kemudian, saya temukan tali pinggang yang sama mulai dari bahan, warna dan merek, dijual hanya Rp35 ribu, itu pun belum ditawar. Sangking keselnya tali pinggang itu saya buang, dan sekarang ntah ada dimana,” beber perempuan yang hobbi travelling. Hingga karena hobinya tersebut, kulitnya rela berubah sawo matang dari yang putih bersih.
Gaji sebesar Rp100 ribu tersebut, adalah cerita lama. Kini, Hana punya gaji yang dihitung dalam jumlah jutaan. “Gaji sih aman-aman saja. Kalau sekarang sudah jutaan. Gak banyak sih, tapi memang sangat lumayan,” tukasnya tersenyum.
Selain Hana, Elly Suryanti yang berada dalam satu gruop dengan Prapanca yaitu di radio Dangdut TPI Cas 96,7 FM mengatakan yang hampir sama dengan Hana. Yang berbeda adalah dari tampilan. Elly memang terlihat lebih anggun dan feminin. Dengan kerudung hitam, baju kuning panjang dan celana lea hitam membalut tubuh kurusnya.
“Orang memang lebih sering tertipu suara kita. Saya sendiri sering dikirain punya tubuh besar. Fans yang datang ke studio sering kali bilang, eh badannya ternyata kecil ya. Padahal suaranya besar,” ujar Alumni Fisip UMSU tersebut.
Sedikit berbeda dengan Hana, Elly mengakui kalau keinginan untuk menjadi Penyiar memang sudah tertanam sejak kecil. “Ketika ada peluang untuk melamar jadi penyiar langsung saya coba. Saat kecil dulu rasanya penyiar enak, karena bisa mengatakan apa yang mau dikatakan dan bebas bercuap-cuap,” kata pemilik kulit kuning langsat ini
Walau sempat ada rasa minder, karena radio yang dilamar tersebut berhubungan dengan danggut. Aliran musik yang memang selalu dianak-tirikan. “Keinginan untuk jadi penyiar lebih besar, jadinya cuek aja. Lagi pula sekarang danggut sudah tidak dipandang sebelah mata lagi kan,” tambah gadis periang ini.
Namun, tetap saja sebagai penyiar radio, harus dituntut untuk senang selalu. “Kadang saat gak mood untuk siaran. Kita mau tidak mau ceria agar pendengar mendengar kita yang sedang senang juga, makanya enjoy aja,” jelasnya.
Jauh berbeda dengan Hana, Elly memanfaatkan gaji pertamanya total hanya untuk ongkos. “Gaji pertama sebesar Rp75 ribu, itu hanya cukup untuk ongkos, gak bisa beli apa-apa.Karena gaji itu juga orang tua saya menyarankan untuk berhenti. Tapi karena saya benar-benar mau jadi penyiar, saran itu tidak terlalu diambil pusing,” tandasnya.
“Bayangkan kadang harus tidur di kantor kalau tugas malam, itu sama sekali bukan beban dan nikmati dengan hati,” pungkasnya. (nina)

Lirik Incubus

•April 2, 2008 • Leave a Comment

Incubus
(I Miss You)

To see you when I wake up
Is a gift I didn’t think could be real.
To know that you feel the same as I do
Is a three-fold, utopian dream.
You do something to me that I can’t explain.
So would I be out of line if i said
I miss you.
I see your picture,
I smell your skin on the empty pillow, next to mine.
You have only been gone ten days
But already I’m wasting away.
I know I’ll see you again
Whether far or soon.
But I need you to know that I care
And, I miss You.

Lirik Ten2Five

•April 2, 2008 • Leave a Comment

Ten to Five (You)

You did it again
You did hurt my heart
I don’t know how many times

You… I don’t know what to say
You’ve made me so desperately in love
and now you let me down

You said you’d never lie again
You said this time would be so right
But then I found you were lying there by her side

You.. You turn my whole life so blue
Drowning me so deep, I just can reach myself again
You.. Successfully tore my heart
Now it’s only pieces
Nothing left but pieces of you

You frustated me with this love
I’ve been trying to understand
You know i’m trying i’m trying

You.. I don’t know what to say
You’ve made me so desperately in love
And now you let me down

Maafkan aku

•March 14, 2008 • Leave a Comment

04.46.20 WIB, Pukul 14 Maret 2008

Handphone ku berbunyi, sebuah SMS masuk. Kantukku hilang, kalam yang tersirat membuatku senyum tapi airmata malah mendera.

“Indah di dekatmu, sepi tanpamu, bahagia  melihat senyummu, lirih melihat air matamu. Aku tak tahu apa artiny itu. Mungkin kau tau, tolong beri aku tau. Yang jelas aku selalu rindu padamu. Met tidur, aku pun selalu ingin dekat denganmu. Walau tak ada kesempatan itu”.

Maaf aku malas mengomentarinya. Jariku pun tak mau bergerak untuk membalas SMS. Biarlah, biar. Aku lelah membahasnya. Cukup bagiku, kau tau apa yang kurasa dan aku tau apa yang kaurasa.  Rasanya tak perlu membalikkan otak untuk tau apa yang kita rasa ini. Sebut saja ini sebuah kegilaan rasa. Aku nggak berani komplain sama Allah. Yang ku tahu dia punya rencana untuk kau dan aku. Bisa kau berlalu, bisa juga aku yang berlalu. Atau kita bisa menjadi sebuah keluarga. Hmm, ntahlah, ntah, aku nggak mau memikirkannya.

Frente (The best song of my life)

•February 6, 2008 • Leave a Comment

Love Bizzard Triangle

Every time i think of you

I get a shock right through into a bolt of blue

It`s no problem of mine but it`s a problem i find

Living a life that i can`t leave behind

There`s no sense in telling me

The wisdom of a fool won`t set you free

But that`s the way that it goes

And it`s what nobody knows

And every day my confusion grows

Every time i see you falling

I get down on my knees and pray

I`m waiting for that final moment

You`ll say the words that i can`t say

I feel fine and i feel good

I feel like i never should

Whenever i get this way, i just don`t know what to say

Why can`t we be ourselves like we were yesterday

I`m not sure what this could mean

I don`t think you`re what you seem

I do admit to myself

That if i hurt someone else

Then I`LL never see just what we`re meant to be

Every time i see you falling

I get down on my knees and pray

I`m waiting for that final moment

You`ll say the words that i can`t say

Have a nice life

•January 3, 2008 • Leave a Comment

21.00 WIB

3/1 2008

Since I am becoming a loner, I feel it  so lone. The situation that makes me feel weird but comfort. In this new year, I want to thank  every single days that Allah gives me. Don’t wanna be a stranger to my self, don’t wanna be stranger to the people a round, even if they think me as a stranger. Then, sometimes you feel right. That yes, you much better to be your own self. Listen to the voice within. Enjoy every little time you take breath in and out. And finally you realize that you don’t have to be a sad person. Cause, being  someone that you want, if you really want is a suck thing.

I promise to my self, I’ll smile for you, for my self and to anyone. And hei, it’s a sunny day. And I love it. Sun still shines like your eyes stare at me………………..love it…love it…love it…love it..love it…love it…(nina rialita)

Pilihan

•January 2, 2008 • Leave a Comment

00.41 WIB

3  Januari 2008

Resolusi kedua…

Kau adalah rasa yang tak pernah usai. Kau adalah raga yang selalu ada saat aku membutuhkanmu. Tapi, maaf sekali maaf, aku harus melupakanmu. Kau adalah air yang mengalir saat dahagaku tak tertahankan. Namun, maaf sekali lagi maaf, aku harus mencoba menutup kisah ini. Bukan karena ingin membohongi hati, toh aku sedang berdamai dengan hati. Tapi sejauh langkah yang ku ayun, aku tak mendapatimu di masa depanku. Haruskah aku menyalakan api asa agar tetap membara, jika akhirnya aku tersadar hanya menyakiti jiwa.

Aku harus berhenti egois, harus belajar ikhlas dan mengerti kata rela. Harus berani kehilanganmu, harus tegar jika kau berlalu, harus kuat jika kau bersamanya. Kita sedang hidup dan berdamai dengan kenyataan, bukan mimpi. Maka aku harus tetap terjaga untuk mengawasi hati agar tidak selalu bergantung padamu.

 Tahun 2008, perlahan aku harus bisa memisahkan diriku dengan dirimu. Jika kau pernah bilang, kau ingin selalu menjagaku, menjadi seperti mentari yang menyinari tanpa pamrih, maka aku akan mengijinkanmu. Tapi ijinkan juga, aku untuk menolak sinar mentarimu. Kau tahu mengapa? Hmm, sangat sulit untuk bicara pada hati, bahwa apa yang kau lakukan adalah tanda bahwa kau hanya sayang padaku bukan inginkanku.

 Hidup adalah soal pilihan. Dan aku akui, pilihan ini sangat berat. Yakinlah, aku melalukannya dengan pelan dan sangat berat juga. Jika, kau dapati aku kadang mengacuhkanmu, ini demi kebaikan kita. Dan jika kau dapati juga aku menolak sesekali perhatianmu, ini juga karena aku tak ingin sayangku padamu semakin besar. Hingga aku lupa bahwa saat ini aku sendiri. Aku harus tetap tersadar dengan kesendirianku, agar aku tetap membuka hati untuk lelaki lain yang mungkin jodohku di masa depan. Toh, hingga saat ini, aku lupa untuk itu.

Jadi kesimpulannya, resolusi kedua tahun 2008 adalah menolak sinarmu yang menyinari hariku tanpa pamrih. Dunia, kita bukan pasangan yang baik. Kebersamaan kita hanya akan membuat banyak orang terluka. Maaf  juga, jika di masa depan kau tak ditakdirkan bersamanya, aku menolak untuk bersamamu. Kau tahu kenapa. Jadi cukuplah, aku tahu perasaanku padamu dan perasaanmu padaku. Bantu aku agar aku bisa menahan hati untuk menginginkanmu…

Cerpen : Khalayan

•December 27, 2007 • 2 Comments

indah ya? dicari di google. Interaksi ibu dan anak Abi Untuk Anakku

Oleh : Nina Rialita
Maret 02.00 WIB

Aku terbangun, terjaga, tersentak, di atas ranjang di samping raga seorang lelaki. Raga yang dua bulan ini aku panggil Abi. Dia yang meminta aku memanggilnya begitu. Katanya panggilan itu membuatnya merasa berarti. Katanya panggilan itu akan mengingatkannya betapa inginnya dirinya menjadi ayah dari anak yang keluar dari rahimku.

Ku pandangi Abi dari balik tubuhnya. Airmata mengalir tanpa daya. Mengalir tanpa suara, sebab malam dan juga aku tak ingin buat Abi terjaga. Rasa sesal, rasa bersalah karena telah mengabaikannya juga karena tidak menerimanya dengan sepenuh hati.

Abi adalah Mas Bayu. Pria yang menawarkan hatinya padaku dalam kurun waktu singkat, dia jadi suami dan kini ku panggil Abi. Sesosok jiwa sederhana yang datang bak kilat menyambar di tengah galaunya jiwa. Pria yang terlalu sempurna bahkan terlalu.

“Mas Bayu, seharusnya aku menjadi perempuan yang paling beruntung menemukanmu. Bahkan teramat beruntung, karena kamu telah memintaku menjadi istrimu. Kurang apa dirimu mas? Sholatmu terjaga, perilakumu santun bukan hanya kepadaku tapi juga kepada keluargaku,” bathinku berkata tanpa instruksi.

“Tapi mas, aku belum mampu membalas rasa seperti yang kau curahkan padaku. Kalau boleh jujur, aku tidak mencintaimu. Aku bahkan sempat memikirkan lelaki lain saat menikah denganmu mas. Yah, satu bulan kita menikah aku memikirkan dan menangis untuk lelaki lain. Aku marah, kenapa kau sempurna. Yang membuatku tidak bisa bilang kata tidak, saat kau memintaku jadi ummi bagi anak2mu kelak,”

“Aku meradang. Ya, meradang karena aku merasa tak punya pilihan untuk menolakmu. Mas, aku tidak punya satu pun alasan yang jelas, kenapa harus menafikanmu. Kecuali satu untaian kata yang merangkai kalimat ‘aku tidak mencintaimu’.

“Ayo Pia, kita sholat berjema’ah,” ucapmu, selepas pesta pernikahan kita. Seharusnya aku bersyukur mas, karena tidak banyak lelaki yang bisa jadi imam bagi istrinya. Betapa aku beruntung kan mas?” airmataku jatuh tidak tertahan…hah

“Aku malu pada semua. Padamu mas, pada janin yang baru berumur tiga minggu ini. Janin yang tak pernah aku katakan padamu. Janin yang ingin aku lenyapkan dari muka bumi ini, saat aku tahu pertama kali. Karena dia mewarisi darah sempurnamu,”

Aku masih ingat, minggu pertama kita menikah. “Pia, kalau Allah beri kita kesempatan untuk menjadi orang tua. Mas, bolehkan punya anak lebih dari dua. Empat misalnya?” ucapmu dengan senyum simpul.

“Aku hanya diam, dalam hati aku hanya bilang apa? Anak? Aku belum siap mas untuk punya anak darimu”. Ingat juga malam pertama yang harus ditunda berhari dan juga aku sudahi dengan tangisan,” isakku

Malam pertama, wajahku bagai ditimpa bulan. Merona karena tangis. Mas Bayu tidak memaksaku. Dia memberikanku waktu. Dia juga tidak tampak kesal. Tapi yang ku tahu pasti, dia selalu terbangun tengah malam untuk sholat tahajud. “Pia, bangun sayang. Udah jam dua pagi, Allah menanti kita untuk memohon dan meminta pada-Nya,” ujarnya sambil mengecup keningku.

Hingga aku merasa bak sebatang kayu tanpa akar. Aku tak berdaya saat akhirnya aku memutuskan untuk menyerahkan bagian terpenting dari wanita. Aku menangis seusainya, aku terisak. Bayangan Sigit, seorang pria yang padanya aku ucapkan cinta, terlintas.

Pemahaman arti cinta yang dangkal diriku membuatku merasa harus membencimu. Tapi waktu berjalan, kau membuatku meluluhkan semua prasangka serta duga ku terhadap mu. Ketulusan serta kesabaranmu menaklukkan kekeraskepalaanku. Ya, mas. Iya aku mencintaimu…..Cinta yang baru saja kumaknai siratannya……

**

“Pi, kurang apa sih si Bayu itu?” sentak Tata, sohib karibku enam bulan lalu.

“Dia gak kurang apa-apa, Ta, hanya saja aku tidak mencintainya,” jawabku padanya.

“Cinta?, semua butuh proses. Pi, pada saatnya nanti, dengan segala kedewasaannya, kau akan temukan makna cinta yang sebenarnya. Masih ingat, cerita Bu Ade, guru ngaji kita, bahwa cinta yang abadi bagi manusia itu adalah cinta sepasang suami istri selepas pernikahan!. Tapi permasalahanya sebenarnya bukan itu kan? Kau masih memikirkan Sigit. Pi, tolonglah, mau kau buat apa hidupmu? Menanti, menanti dan menanti atas kelanjutan kisah yang arahnya gak jelas mau dibawa kemana?,” bentaknya lagi.

“Kalau dia memang menginginkanmu, dia pasti gak membuat posisimu tanpa kejelasan seperti ini. Aku bukannya melarangmu dengannya. Kalau kau bahagia aku akan mendukungmu, ingat aku sahabatmu. Dan sahabat bukan hanya mendukung tapi juga mengkritik demi kebaikanmu. Dan tanya hatimu, bahagiakah kau dengan keadaan ini?. Sudahlah tiap hari kita selalu berdebat soal ini, dan selalu saja ada sanggahan atas semuanya,” ungkap Tata sambil geleng kepala

***

“Pi, bunda mau bilang sesuatu. Masih ingat dengan tante Ira?. Teman bunda waktu sekolah dulu. Dia punya anak laki2, baik udah kerja dan anaknya santun. Pi, bunda ingin dia jadi mantu bunda. Pia, mau ndak?,” tanya bunda padaku pada suatu malam dengan senyuman ikhlas khas senyuman para bunda di seluruh dunia saat menatap masa depan buah hatinya.

“Nda, Pi memangnya udah cocok jadi seorang istri?. Kalau Pia punya pilihan sendiri, bunda ndak marah kan?,”jawabku.

“Memangnya Pia dah punya? Kenapa gak bilang ama bunda? Namanya siapa?,” timpal bunda saat itu. “Namanya Sigit, dia anak band, bunda,”jelasku

“hmm, bunda gak pernah minta yang aneh2 nduk, yang penting Pia senang dan memang pilihan Pia itu bisa jadi Imam buat rumah tangga Pia kelak. Yah, seperti almarhum ayahmu yang sederhana namun mampu menjadi imam bagi keluarga kita. Besok, kenalin ke bunda ya,?” ajak Bunda

“Serius bunda?, besok Pia akan ajak Sigit ke rumah. Tapi Bunda mesti janji jangan tanya yang macem-macem,”tegasku

***

“Git, bunda ingin kenal ama kamu. Nntar malam, Sigit ke rumah ya?” ujarku. Sigit, pria yang padanya aku merasa bahwa aku mencintainya. Yah, cinta yang kuartikan dangkal.

“Ah, jangan sekaranglah Pi. Aku harus tampil ntar malam. Lagian ngapain juga harus ke bunda. Emangnya kita mau menikah?. Kan Pia tahu, aku tu gak siap. Lagian apa sih arti pernikahan?. Bikin susah aja,. Ntar deh Pi, kapan2 aja ya. Aku harus jadi anak band yang bisa dikenal semua orang, punya banyak uang dan kita Pi akan keliling seluruh dunia dan ahhh, pokoknya gak perlu nikah tapi bisa terus bersama,”jawabnya panjang lebar

“Git, Pia tahu jawaban seperti ini akan muncul tanpa dipaksa. Pia juga tahu bahwa kamu. Git, Pi tu cinta ama Sigit. Itu juga kenapa Pi, bertahan tanpa meminta banyak. Keras kepalamu Git, semua Pi terima. Tapi untuk jawaban Sigit tadi buat Pi berpikir bahwa kita memang sia2 menjalin semua ini. Pia ingin Sigit bahagia, jadi bahagialah tanpa Pia,”tegasku bersama dengan titik cairan kesedihan.

“Pia, dengar jangan buat aku memilih antara musik dan dirimu. Karena kau tahu pasti jawabannya, aku akan dan tetap milih musik. Ini hidupku Pi, ini jiwaku. Jangan tunggu aku untuk mengerti arti kata nikah. Aku mencintaimu Pi, tapi menikah entahlah,”ujarnya

**

“Lho Nduk, mana Sigitnya?, ujar Bunda keesokan harinya.

“Hmm, dia sibuk nda, mungkin pun Pia bukan yang terbaik buat dia. Dan dia belum memikirkan pernikahan. Wah, sudahlah bunda. Ntar aja kita bicarain lagi ya,”pinta ku

“Assalamualaikum,” “Pi, ada tamu nduk, buka pintu ya,” kata bunda yang dengan suara mengeras.

“Oh, tunggu dulu, kamu pasti Pia. Anaknya Bu Laila kan. Ada ibumu Pia,” ujar seorang ibu yang akhirnya ku tahu dia Tante Ira. Dia tidak sendiri tapi bersama seorang pemuda yang selalu menundukkan pandangannya dariku. Ya, siapalagi kalau bukan mas Bayu.

“Bunda dan keluarga Tante Ira sudah berbicara. Dan Bayu memilih Pia untuk menjadi istrinya. Nduk, gimana, kamu dan sigit bagaimana?. Bunda bukan ingin memaksakan kehendak. Tapi bunda ingin Pia mendapatkan yang terbaik,”ujar bunda dihadapan aku, Bayu juga Tante Ira

“Pi, ,mau tanya ama mas Bayu. Kenapa pilih Pia, mas belum kenal Pia kan?, mas juga gak tahu kepribadian Pia,”

“Saya memang tidak pernah kenal Pia secara terbuka. Tapi penjelasan ibu saya dan bundanya kamu, sudah cukup untuk mengetahui bahwa kamu itu adalah pasangan yang tepat buat mas,”ujarnya masih dengan pandangan tidak juga tertuju padaku.

“Menurut mas, pernikahan tanpa rasa cinta bisa bertahan?,” tanyaku beruntun. “Cinta Pia?, jangan agungkan cinta. Bagi mas, makna percintaan itu ya setelah pernikahan itu. Cinta sejati juga hanya bisa diagungkan buat-NYA. Bisa atau tidak pernikahan bertahan, tergantung pada niat saya dan kamu,”jawabnya.

“Kenapa mas mau menikahi Pia?” tanyaku lagi. “Karena Allah, karena pernikahan adalah anjuran dari-Nya. Karena pernikahan adalah separuh dari nikmat surga yang dirancang oleh-Nya. Juga karena memang kita sudah diciptakan berpasangan bahkan sebelum janin berkembang,”papar mas Bayu.

**

“Asswrwb. Sigit, Pia mohon doa restu. Minggu depan Pia menikah. Dengan Bayu, Pria yang menawarkan jalinan pernikahan. Pia berdoa semoga Sigit bisa mencapai semua cita. Git, Pia mencintaimu…., datanglah saat pernikahan Pia nanti,” isi SMS yang kukirim bersama lara juga sedih tidak tertahan..kepada Sigit.

“Pia, ini becanda kan?, tidakkah Pia ingin mengarungi belahan bumi ini bersama Sigit? Selangkah lagi Pi, Sigit akan berhasil. Ini Sigit masih di Bali bersama teman2 satu band. Please Pi, jangan menikah. Jangan menikah. Tunggu Sigit,” ujarnya langsung menelopon ke hp ku.

“Sigit, Pia cinta sama Sigit. Pia tanya satu hal. Pia bukannya orang yang suka memaksa untuk menikah. Tapi Sigit yang gak pernah percaya dengan jalinan pernikahan. Sampai kapan Pi menunggu Git ?,” tegasku padanya

Hening, dia diam tidak mampu bicara speechless, aku tutup teleponku..

**

“Nduk, kamu harus siap-siap ya. Nurut ya sama kang masmu. Bunda hanya bisa berdoa. Bunda ndak bisa lagi mencampuri masalah kamu. Pi harus belajar masak ya nduk, jangan cepat menyerah ya,”

“Nda, Pi senang bisa bahagiakan Bunda. Tapi bunda…,” ujarku terbata. “Ada apa nduk koq ngangis, besok kamu jadi istrinya Bayu harus bahagia la nduk. Ada apa, ayo cerita.

“Bunda Pia masih teringat Sigit, Pia cinta ama Sigit, huhhhhhu,”tangisku. “Pia, bunda tahu, bukanlah bunda ibu yang baik jika ndak tahu apa yang terjadi. Bunda yakin Sigit lelaki yang baik. Tapi mungkin dia bukan untuk Pia. Dan apa nduk tujuan Sigit menjalin hubungan ama Pia?.Jangan buat dosa yang mungkin ndak kamu sadari nduk,” jelasnya.

**

Januari 09.00 Wib

Aku menikah dengan Bayu dengan secuil harapan Sigit akan berubah pikiran didetik-detik akhir awal pernikahanku. Namun hingga resmi cincin tanda pernikahan itu melingkar di jariku, Sigit tidak juga hadir bahkan ucapan selamat tidak kunjung datang.

Januari 17.00 Wib

Lagu ini untuk seorang perempuan yang sedang bersanding di pelaminan dengan pria yang pasti bisa buat dia bahagia. “Ku ingin selalu berdua bersama denganmu. Tapi tak mungkin saat ini..” Itu adalah lagu BIP yang judulnya Sampai Nanti, lagu yang dinyanyikan Sigit di hari pernikahan bersama rombongan anak bandnya.

“Pi, Sigit cinta ama Pia, seluruh hati serta jiwa. Pi lihat mata Sigit bengkak, Sigit nangis. Sigit sedih banget. Tapi Sigit juga memang belum bisa buat Pia bahagia. Karena Pi ingatkan, Sigit paling benci dengan aturan. Pernikahan buat Sigit terkekang, kalau memang cinta tanpa syarat kenapa harus ada pernikahan. Juga kalau Mick Jagger bisa bertahan bersama pacarnya sampai tua, itu bukan karena pernikahan kan?. Sigit Cinta sama Pia, tapi sepertinya sudah terlambat buat Pi untuk merubah keputusan,” paparnya di tengah pernikahan kami. Dia mohon kepada mas Bayu untuk mengungkapkan semua perasaan.

**

Susah untuk membuang bayangan Sigit mas. Tapi aku berhasil mas. Toh pada akhirnya tidak ada alasan untuk membuang masa lalu. “Pia, jangan buang mereka yang pernah melukiskan cerita dalam kanvas kehidupanmu. Mereka adalah bagian dari masa kini. Hanya coba lah untuk tidak memperdulikannya,” ujarmu saat aku terdiam di antara perbincangan kita soal masa depan minggu pertama kita menikah.

Kini aku sadari betapa aku salah. Salah menduakan pikirku. Mas, aku akan berusaha untuk menjadi istri yang baik dan menjadi ummi bagi anak-anakmu kelak,”bathinku

**

Maret 02.30 Wib

“Pia, udah bangun?. Koq mas ndak dibangunin, Pia belum sholat tahajud kan? Biar sholatnya berjemaah aja ya?. Pia kenapa, koq tangis?, Mas buat salah ya?. Mas minta maaf kalo mas buat Pia kesal,” ujar Mas Bayu sambil menyapu kedua tangannya di kedua pipiku yang menghentak lamunan ku sedari tadi.

“Mas ndak salah apa-apa. Pia yang salah. Karena tidak pernah berusaha jadi istri yang baik. Mas maaf Pia menyembunyikan sesuatu. Mas sebentar lagi akan menjadi Abi yang sebenarnya. Pia hamil mas tiga minggu,”ujarku sambil terisak.

“Ya Allah Pia, yang bener!?. Alhamdulliah, Allah kabulkan doa kita,” ujarnya dengan tawa tanpa henti tangannya refleks memegang perutku dan meletakkan wajah di perutku.

“Mas, Pia janji untuk mencintai mas setulusnya. Pia mencintai mas. Kita akan punya anak berapapun semua terserah Allah SWT. Bukan hanya empat, Pia mau koq anak kita 11, biar kita bisa buat kesebelasan,” tangisku yang kali ini tentu tangis bahagia dengan merangkul tubuhnya.

Rasa akan datang dan pergi. Luka juga akan terkoyak tapi juga akan terobati. Hidup juga pilihan. Tinggal manusia yang memilih berada di dunia hitam atau putih atau bahkan malah abu-abu. Manusia diciptakan berpasangan. Dia di suatu tempat dan entah di mana memang diciptakan untukmu….

Medan, Agustus 2006

Cerpen “Tak selamanya cinta membahagiakan”

•December 27, 2007 • Leave a Comment

dari google (berdualah, tapi jangan tebarkan lara)Cerpen Dendamnya Dalam Diam Oleh : Nina Rialita“Katakan cinta hanya pada dia yang memberikan rasa ikhlas padamu. Jangan buat dia menunggu kepastian yang tak mampu kau beri. Kecewa bolehlah dua kali. Ketiga kali? Sama dengan kau bunuh dia perlahan. Jangan kau tunggu dia balas dendam!”***

Malam kian larut, bulan menyempit tapi bintang mampu berpijar. Bayu dengan ikhlas meraba malam. Tanpa banyak kata-kata aku rasakan rindu mendalam. Rindu pada belaian Bunda yang kian tegar melewati hari. Bunda yang lupa cara tersenyum juga lupa cara merangkulku. Yang ada hanya dendam…Aku juga tak pernah ingat kapan terakhir kali dia bertanya, “apakah Dedek baik-baik saja?”. Bunda panggil aku Dede, karena aku bungsu dari rahimnya. Ya, Bunda lupa menggerakkan tangannya untuk mendoakan tiap kepergianku dari rumah untuk sekadar melepaskan dahaga atau mengisi dompet masa depan.

Yang ada hanya dendam…

Dendam pada sosok bapak. Pria yang aku panggil bapak, padahal aku juga tak tahu pantaskah dia dipanggil begitu. “Bunda, Dedek mau tanya, bapak kemana koq gak pulang-pulang?”. aku bertanya pada Bunda, pada malam-malam tak pernah kujumpai lagi bapak di rumah saat aku SMA kelas III sekira tahun 1998. Aku melihat bapak, paling sebulan sekali. Datang 60 menit, makan lalu pergi.

Hingga di tahun itu, aku lupa kapan aku terakhir kali menjumpainya. Kadang dua bulan, kadang tiga bulan dia tidak pulang. Hingga aku tak pernah peduli, apakah dia mau pulang ke rumah lagi atau tidak. Padahal aku masih dapat meretas masa lalu, ketika aku berumur lima tahunan. Aku menanti sosok bapak pulang ke rumah tepat di depan pintu. Mata tak jua mau terpejam saat aku tak mendengar langkah atau suaranya di rumah. Tapi kini? Aku tak pernah perduli lagi!.

“Dedek Bapak cari uang,” itu jawaban bunda. Tak pernah jelas, tapi cukup untuk buat aku tak menggerakkan mulut untuk bertanya lebih. Aku pun lupa bahwa aku punya bapak. Yang aku tahu, aku dihadiahi uang jajan dari keringat Bunda menjajakan sayuran dari subuh hingga petang.

Aku juga ingat saat bunda bilang “Dedek, bayar uang sekolahnya minggu depan aja ya, dagangan Bunda sedang tidak lancar,”. Aku cukup tahu bahwa dia sedang kesulitan. Dan bukankah seharusnya bapak ada saat bunda bergelut dengan rumitnya hidup?. Tapi dia entah dimana, tak pernah bilang ada dimana. Entahlah…

Tahun 2000

“Dedek, bapak mulai besok, ada di rumah lagi. Usahanya bangkrut. Bunda harap Dedek bisa ngerti kalau nanti keperluan Dedek untuk kuliah, tidak bisa Bunda penuhi tepat waktu,” ujar bunda padaku saat aku setahun berada di bangku kuliahan. Aku hanya bisa terdiam. Dalam hati aku berkata, bangkrut? Kapan pula bapak pernah berbagi penghasilannya. Kemudian dia berbagi kebangkrutannya!?. Bravo!

Allah memang maha untuk segalanya. Aku dapat pekerjaan sambil kuliah. Aku bantu bunda untuk tidak buatku tergantung padanya lagi. Aku senang tidak menyusahkannya lagi. Tapi cobaan terus bergelut, aku mulai merasakan marah. Tiap hari di rumah, aku hanya melihatnya bangun dan tidur serta makan, pergi entah kemana dan pulang dalam keadaan mabuk. Berteriak diantara kerumunan rumah para tetangga. Memaki dunia atas kebangkrutannya. Hah! Hebat!.

Hingga suatu hari aku pun malu ke luar rumah, menghadapi pertanyaan dunia tepatnya tetangga atas teriakan-teriakan bapak di malam hari. Aku terbiasa, dengan terpaksa. Toh pria yang mabuk itu, dipercaya Allah untuk menjadi bapak bagiku.

Hingga saat itu pun tiba. Saat dimana, tetes air mata menjadi curahan. Hingga tawa pun tak pernah lepas dari kepura-puraan. Hingga saat sumpah serapah selalu keluar dari rongga mulut bunda. Atau terkoyaknya kebusukan yang terbungkus rapi dengan putihnya kain kafan. Bau kebohongan menyeruak keras menghantam hidung, yang sejatinya menginginkan aroma kejujuran.

Pepatah lama pernah bilang, “Sepandai-sepandainya menyimpan bangkai, akhirnya akan tercium juga’. Yah, sepandainya bapak untuk menyimpan rahasianya, akhirnya terbongkar dengan cara keji. “Dede, cepat ke rumah sakit, bapakmu kena stroke,” kalimat tergesa yang diucapkan Pak Udin, temen bapak di suatu siang tahun 2003.

Aku bergegas, menyusul bunda yang sedang menjajakan sayuran di pasar. Dengan gugup, aku katakan pada bunda soal tersebut. Entahlah jauh didasar hati, aku tetap merasakan khawatir pada kondisi bapak. Tanpa banyak rencana aku dan bunda melangkahkan kaki ke rumah sakit.

Aku dan bunda buka ruangan VIP tempat bapak dirawat. Dan kami temui seorang perempuan berdiri di samping raga bapak yang terbaring lemah lengkap dengan infus. Kondisi bapak memang sangat menyedihkan, mulutnya sudah tak normal lagi, seperti kondisi umumnya orang yang kena stroke. Krakkk!!!!! Suara hati bunda yang tak terdengar oleh pengapnya suasana rumah sakit.

Pertengkaran terjadi tanpa diminta. Bunda meminta perempuan itu keluar. Heran, menyelubungi kalbuku saat itu. Senyap, aku berada berdua bersama sosok bapak yang terbaring lemas. Tak berselang lama dalam hitungan menit, bunda masuk dengan mata tertunduk.

Aku bertanya padanya. “Siapa ibu tadi bunda?, teman bapak ya?”. Bunda diam seribu bahasa, aku mencium aroma keanehan. Aku memaksa bunda untuk bicara, aku memaksa! Bunda terduduk di lantai rumah sakit, aku mengikuti geraknya, dengan tertatih dan terbata dia katakan perempuan itu selingkuhan bapak.

Entah kenapa aku tidak terkejut dengan pernyataan itu. Mungkin aku sudah terbiasa dengan gosip perselingkuhan bapak, sejak aku sekolah. “Bunda sudah tahu sejak lama, bunda pikir bapak akan berubah. Lagipula bunda ingin Dedek tak tahu soal ini, agar saat Dedek wisuda nanti bisa ditemani dengan orangtua lengkap,” ujarnya dengan suara lirih tertahan.

“Bunda kenapa tidak cerita soal ini? Dedek sudah besar bunda! Jadi bunda tanggung semua ini sendiri?,” kataku dengan suara lantang yang memenuhi ruangan. Aku mencoba tegar, tapi perlahan tangisku dan tangis bunda tumpah ruah di dalam ruangan yang sesak dengan bau obat-obatan.

Sejak itu bunda menerima bapak dengan rasa sesal dan kepasrahan. Kondisi bapak yang sakit membuat amarah kami teredam. Tapi waktu berjalan, bapak mulai kembali bisa berjalan. Dia kembali menyakiti bunda dengan kebohongan lagi dan lagi. Mulai dari perselingkuhan yang tidak pernah usai. Pertengkaran pun mulai menjadi makanan sehari-hari. Bapak yang sudah ringkih tidak juga menemukan arti hidup menjelang tua. Tidak banyak yang berubah!

Pertengkaran memuncak, saat bunda sudah kehilangan kesabaran. Saat setan berhasil membujuk bunda untuk tidak bersabar. Bunda menangis dengan suara lantang. Bunda menyampaikan keinginannya untuk bapak pergi dari rumah. Pergi untuk bapak yang menurut bunda lebih baik bersama selingkuhannya.

Aku tertawa melihat bapak menolak tawaran bunda. Saat bapak punya kuasa dan harta, dia meninggalkan bunda tanpa dipinta. Kini, saat kuasa tak berdaya, harta pun entah kemana, tidak ada kesempatan untuk berpoya-poya, dia bertahan? Bravo!

Bunda pun memilih mengacuhkannya, rumah pun tidak seperti Baiti Jannati. Bunda menjadi diam, tidak banyak bicara. Kerutan di wajahnya makin tidak terkira. Dia tetap menjadi istri, dengan mencari uang, memasak untuk bapak tapi kata-kata tidak dihadirkannya.

Bapak meradang, dia berteriak, kenapa aku diacuhkan. Bunda tetap membisu, membiarkan bapak meradang. Aku? memilih untuk membisu juga. Logika tidak pernah bisa membantu. Kenapa sakit terus dan terus dihadirkan Bapak ke Bunda. Karena memang aku tidak punya alasan untuk mengerti kenapa.

Suara kokokan ayam berbunyi, jam berdenting keras, adzan shubuh membangunkan umat yang ingin berdoa pada-NYA. Bunda mengambil wudhu, sholat dan pergi ke mencari lemar demi lembar kehidupan. Aku bangun membereskan rumah, dan bersiap menjelang hari dengan aktivitas. Bapak terbangun, makan, nonton TV, mandi dan bergegas pegi entah kemana, yang aku tahu ke rumah perempuan selingkuhannya. Pulang malam, berkumpul bersama teman logikanya. Pulang ke rumah dini hari.

Entah kenapa, dan kenapa bapak bertahan di rumah. Sedang bunda memendam dendam lewat diam. Bunda pun terdiam, tanpa kata. Saat hari tua menjelang dia ditemani pria yang menggangu jiwanya.

Bunda bertanya kenapa tidak ada jawaban. Keikhlasan yang diberikannya sepenuh hati di hari-hari lalu tinggal ampas. Aku mencoba mengerti itu. Juga mencoba mengerti mengapa jalinan yang dulu bunda dan bapak usung atas nama cinta, berubah rasa muak bagi bunda.

Jauhkan bilah pisau dari bunda. Bapak pergilah, sakiti perempuan lain. Tapi jangan bunda, karena airmatanya telah mengering. Dan amarah bunda juga belum dan tak pernah reda. Jauhkan pisau dari bunda, jangan sampai kematian membuat jiwanya tenang.

Aku hilang dan akan menghilang darimu. Dari semua yang kurasakan penat. Kau yang memberikan tangis, tertawapun kau diatas dukaku, tak mengapa. Karena tersakiti aku biasa…(***)

Di Persimpangan

•December 27, 2007 • Leave a Comment

26-bayangan-dikecilin.jpg

26 Desember 2007aku26-peace-dikecilin.jpg

23.00-24.00 WIB

Resolusi 2008. MENABUNG

 Senyap malam, hening jiwa, bertabur senyum di raga. Malam itu, aku dan dua temanku, Adelina dan Diana nggak peduli dengan dinginnya malam. Kami  berdiri di Simpang Juanda dan berfoto-foto. Mata-mata nakal dan penuh dengan tanda tanya melirik menelanjangi.  Nggak ada yang bisa melarang orang-orang berpikiran begitu. Perempuan seharusnya nggak ada di simpang jalan  jam sebegituan. Dan begitu  beberapa sepeda motor datang silih berganti menawarkan senyuman. Kami hanya bisa menaikkan alis tanda sambil bergumam ”please dong ah, kami perempuan baik-baik” Kami sangat tertarik dengan malam saat itu. Terlebih dengan sebuah papan reklame besar yang bertuliskan “Save Our World” di simpang Juanda keluar dari Warkop. Tiga kata yang mengiringi kampanye ‘Stop Global Warming’

Malam kemarin, kami sisir dengan langkah2 kecil tapi menyakinkan. Setelah dua jam sebelumnya kami menumpuk di Warkop Harapan di warung Surabi. Kami menaikkan kaki ke kursi, kami berkelakar dengan nada keras, nggak peduli dengan gerombolan2 anak-anak muda sok mantap dengan gaya highclass tapi anak papi, yang dibanggakan kekayaan papi. Kami datang naik beca mesin, pulang jalan kaki.  Cuap-cuap kami memutuskan dua hal, tahun 2008 tabungan kami harus terisi. Pokoknya tahun 2008, kami  harus punya uang simpanan. Selain itu, kami harus bisa berdamai dengan hati. Secara kami bertiga jomblo, jadi nggak perlu risau memikirkan nasib kami yang belum juga menemukan soulmate yang baik hati dan nggak sombong, huahuahuahua.

 Pagi terus memaksa kami pulang. Tapi sialnya angkotpun merajuk di jalan. Nggak ada satu angkotpun yang bisa menghantarkan Diana ke Brayan. Akhirnya, kami jalan di trotoar Juanda sampai depan Makam Pahlawan. Tetap saja, kami nggak menemukan angkot Morina 81, dan langkah-langkah tegap mendatangi kami. Mereka anak-anak punk. Kami juga paham, jika mereka menganggap kami bukan perempuan baik-baik, tapi kata Adel sih, beruntung banget aku pakai jilbab. Jadi merekapun mengganggu hanya seadanya.

Pukul 00.30 WIB, Diana menyerah dia akhirnya mau ikut nginap di rumahku. Kami menyeberang, eh malah ketemuan teman bawa mobil, ya udah tuh kawan juga lihat kami. Langsung deh numpang sampai rumah. Dan di rumah, ngobrol terus sampai jam 03.00 WIB. Huahhhh, zzzzzz

2008, kami datang. Jika umur panjang, jika Allah mengijinkan, jika kesehatan masih bisa bertahan.

Viva The Robbies. Menabung yuk menabung. Soulmate? pasti ada, tapi kapan? yah kapan-kapan. (nina rialita)