Kata Hati…Dewi_Rastha

•December 25, 2007 • Leave a Comment

(Seorang teman sedang resah saat aku mengisi blog ini dini haricari-cari di internet, dia pilih ini.. Dia ingin bicara dan menuliskannya di blog ku ini. Identitasnya ada di alamat atau ID di bawah tulisannya. Aku selalu menyebutnya buaya darat. Tapi sepertinya buaya ini kena batunya, hehehe. Maaf deh teman, becanda. Aku mendukungmu, karena yang aku tahu posisiku sama seperti si dia jika dia merasakan hal yang sama denganmu. Kau mau, si dia jadi seperti aku?)

Aku ga’ tau mau mulai darimana…..

“apa yang diinginkan mungkin tidak yang dibutuhkan” kalimat ini mungkin lebih tepat untuk aku. Disaat aku ingin benar disatu hati. Disaat itu, aku coba untuk mempertahankan rasa yang belum ada, selama aku mengenal dia, Aku sangat ingin dia, sulit mengungkapkan perasaan sebenarnya, aku ga’tau kenapa? Tapi aku yakin dia tau perasaanku padanya. Aku merasa dialah akhir dari petualangan hatiku. Tapi. Saat aku menyadari bahwa aku pecundang yang takut menerima kenyataan bahwa dia bukan untukku dan saat itu aku tau hukum karma datang padaku, ha…ha… .Sampai saat aku menulis ini, aku masih inginkan dia dan tidak merubah perasaanku untuk dia. Apa yang tak terpikirku ternyata terjadi padaku, apa itu takdir, atau hukuman?…apaun itu aku tetap jalani. irhas_rastha@yahoo.com

Tim Sepak Bola PSDS Deliserdang

•December 25, 2007 • Leave a Comment

00-psds-tim.jpg* PSDS Deliserdang

Mengenal PSDS Deliserdang Lewat Sejarah Singkat

Sebelum Traktor Kuning, Terkenal dengan Tim Anak Kebon

Di Sumatera Utara ada dua klub sepak bola yang berlaga di Divisi Utama Liga Indonesia. Keduanya adalah PSMS Medan dan PSDS Deliserdang. Jika saat ini, PSMS Medan dikenal punya banyak pemain bintang dan selalu menjadi kebanggaan publik Medan, bagaimana dengan PSDS? Klub PSDS Deliserdang memang tak sebesar PSMS Medan, kini.
Namun tim yang menjadi dikenal dengan tajuk Traktor Kuning ini pernah dikenal puluhan tahun silam di Sumatera Utara. Tak hanya itu, PSDS Deliserdang juga dikenal sebagai tim yang mampu mencetak talenta-talenta apik. Bahkan di tahun 1960-an, pemain-pemain Deliserdang mampu memperkuat tim-tim kenamaan Indonesia. Meski sekarang PSDS lebih dikenal sebagai tim kacangan. Bagaimana sejarah dan perjalanan klub yang selama dua musim terakhir ini, terseok di zona degradasi?
Persatuan Sepakbola Deliserdang (PSDS) pertama kali berdiri dan dibentuk tahun 1958, atas persetujuan semua klub-klub yang ada di Deliserdang. Saat itu, Deliserdang masih beribukotakan Tebing Tinggi juga masih bergabung dengan daerah-daerah yang kini melepaskan diri menjadi Serdang Bedagai.
Hanya saja berselang beberapa tahun kemudian, sekira tahun 1960 Tebing Tinggi melepaskan diri menjadi Kotamadya. Deliserdangpun terpaksa memindahkan pusat pemerintahannya ke Medan, di Istana Maimon. Di sinilah, sempat terjadi debat pendapat soal keberadaan PSDS. Tebing Tinggi meminta PSDS ikut menjadi klubnya. Sedangkan Deliserdang tidak mengijinkan. Hingga Lubukpakam sempat membentuk tim tersendiri yang bernama Persatuan Sepakbola Lubukpakam dan Sekitarnya (PSLS).
Untuk menuntaskan masalah ini. Tim sepakbola Tebing Tinggi pun bertanding melawan PSDS. Saat pertandingan sistem home-away, PSDS mampu mengatasi Tebing Tinggi dengan 1-0 (2-1). Masalah ini pun dibawa ke Jakarta untuk segera diputuskan. Oleh PSSI di tahun 1963, Tebing Tinggi akhirnya memiliki klub sendiri yaitu PSKTS. Akhirnya, PSDS tetap menjadi milik Deliserdang.
Perjuangan PSDS di kancah persebakbolaan Indonesia tidak berjalan dengan mudah. Namun di tahun 1964, PSDS sempat bersaing dengan tim-tim papan atas di sepakbola Indonesia. Dari divisi I, PSDS masuk ke divisi utama dan masuk dalam persaingan empat besar di Stadion Menteng dengan mengalahkan Persija 1-0. Gol semata wayang tersebut dipersembahkan oleh Jayus, pemain asal Galang.
“Saat itu, karena hampir semua pemain di PSDS Deliserdang berasal dari anak-anak kebon atau perkebunan. Bahkan para Ketua berasal dari Dirut PTP II atau PTP IX. PSDS pun dijuluki dengan Tim Anak Kebon,” ujar Nurhadi NP, Komisi Pertandingan PSDS.
Pria yang akrab disapa Ton ini pun menceritakan karena julukan Tim Anak Kebon sudah melekat di PSDS, maka ketika berganti julukan menjadi Traktor Kuning pun, banyak yang masih menyebut PSDS sebagai Tim Anak Kebon. “Saat tahun 1980-an, PSDS mulai ditangani oleh pejabat dari Dinas PU yaitu Pak Jono, maka berubahlah namanya. Lucunya, saat PSDS pun bermain di divisi utama di Jakarta, kita tetap dikenal dengan Tim Anak Kebon. Hingga akhirnya hingga sekarang tetap dengan Traktor Kuning,” ujarnya
Selain tahun 1964 itu, PSDS juga sempat masuk posisi enam besar Divisi Utama. Saat itu, PSDS ditangani oleh H Nobon Kayammudin. “Setelah itu, prestasi naik turun dan tidak pernah seperti itu lagi,” tambah Ton.
Sementara itu, membicarakan PSDS Deliserdang tanpa menilik sejarah Stadion Baharoeddin Siregar rasanya belum komplit. Stadion yang terletak di Lubukpakam dan berdekatan dengan mess pemain PSDS ini, berdiri tahun 1971. Namanya sendiri merupakan nama Bupati Deliserdang saat itu, yaitu Baharoeddin Siregar.
Pertama kali dibangun, area stadion dan sekitarnya berjumlah 5 hektar. Rencana semula, dalam wilayah yang 5 hektar itu, akan dibangun komplek olahraga. Selain stadion, juga akan dibangun kolam renang serta Gelanggang Olahraga. Oleh Baharoeddin, Nurdin Pelos yang menjadi Staff pemerintahan Deliserdang disuruh mencari model stadion yang bagus. Mulai dari Kuala Lumpur, Malaysia dan Thailand. Hingga akhirnya stadion mini Singapura yang menjadi acuannya. Jalannya rekontruksi pun diambil alih PT Amargo.
Sayangnya dana yang dihimpun dari setiap dari setiap Camat yang ada kurang lebih 640 daerah di Deliserdang tidak mencukupi. Hingga masyarakat sekitarpun turut serta untuk menyumbangkan apa yang bisa dibantu. Seperti siswa disuruh mengumpulkan botol bekas dan dijual, juga ada masyarakat yang menyumbangkan batu bata untuk dibangun. Intinya, stadion Baharoeddin terbangun tidak lepas dari swadana masyarakat Deliserdang sendiri.
Soal nama stadion, selain karena Baharoeddin seorang Bupati, penabalan namanya juga dirasa cukup pantas mengingat andil sarannya atas stadion tersebut. Dari tahun 1971 didirikan, Stadion pun selesai tahun 1993. Hingga saat ini, Stadion Baharoeddin kokoh berdiri, walau penonton tak pernah penuh. Tetap berdiri walau lampunya kerap kali dicuri. (nina)

Data Klub
Nama : Persatuan Sepakbola Deliserdang (PSDS)
Berdiri : Tahun 1958
Julukan : Traktor Kuning
Stadion : Baharoeddin Siregar
Kostum : Kuning-kuning
Lambang : Pohon Serdang, Daun Tembakau
Berlaga Divisi Utama : 1964
Prestasi Terbaik : Empat Besar Divisi Utama (1964)
Enam Besar Divisi Utama (1992)
Perjalanan Tim : 1962-Divisi I
1964-Divisi Utama
1965-1966-Divisi I
1966-1984-Divisi II
1985-1986-Divisi I
1987-2003-Divisi Utama
2004-Divisi I
2005-2006-Divisi Utama

Sudah Metropolitankah kita?

•December 25, 2007 • Leave a Comment

00-mariot.jpg (foto lepas, gambar bangunan setengah jadi Hotel Marriot. Aku ambil dari lantai II Sun Plaza) Tulisan di bawah ini adalah hasil wawancara dengan Herry Zulkarnaen, beberapa tahun lalu. Saat itu, gejolak penolakan berdirinya Grand Paladium masih tinggi. Kini, ketika semuanya tenang, prediksi Herry Zulkarnaen tampaknya benar. Kemarin (24/12), aku melihat Sinar dan Deli Plaza yang kian mengenaskan. Belum lagi Perisai Plaza. Huh, kondisinya memprihatinkan. Berikut flash back wawancara dengan Herry. Pertanyaan dan jawaban tak ada yang diubah, masih seperti apa adanya.

Wawancara Dengan Drs.Herry Zulkarnain,Msi

GM.Plaza Millenium/ Ketua AP4SU (Ketua Asosiasi Pengelola Pusat Perbelanjaan dan Perkantoran Sumatera Utara)

Dalam waktu dekat ini Grand Palladium akan beroperasi di tengah Kota Medan. Yang berarti akan menambah daftar plaza di Medan. Bagaimana pendapat Drs.Heri Zulkarnain,Msi selaku Ketua Asosiasi Pengelola Pusat Perbelanjaan dan Perkantoran Sumatera Utara (AP4SU). Karena di prediksi dengan kehadiran Palladium akan membuat persaingan antar plaza/mall di Medan akan kian sengit. Efeknya pasti akan ada yang mati lagi. Bagi yang tidak mampu bersaing akan tutup usia.

Inilah kilasan wawancara singkat dengan Drs. Heri Zulkarnain yang ditemui di kantornya di Plaza Millenium lantai 6.

Dalam waktu dekat ini Palladium akan beroperasi, apa pendapat anda?

Dampak yang paling jelas adalah tingkat kemacetan yang semakin tinggi. Karena dengan kondisi lokasi Palladium yang berada di pusat kota yang juga dekat dengan plaza lainnya seperti Sinar Deli Plaza, akan berimbas kepada kepadatan pusat kota yang tidak dihindarkan lagi .

Bagaimana kondisi persaingan pusat perbelanjaan saat ini?

Sebenarnya persaingan antar pusat perbelanjaan tahun 2004 ke bawah bisa dikatakan masih cukup baik. Artinya ada istilah happy income yang didapat setiap pengusaha plaza/pusat perbelanjaan. Baik itu dari segi hunian toko yang selalu penuh dan jumlahnya yang ratusan. Namun tahun 2004 ke atas terutama pascanaiknya BBM, Pengusaha plaza/pusat perbelanjaan menemui kesulitan. Terutama menyikapi naikknya biaya operasional. Karena jika service charge dinaikkan berarti ongkos sewa bertambah. Tidak akan mungkin akan ada penyewa yang akan datang. Bahkan yang ada bisa-bisa keluar karena tidak bisa membayar sewa. Nah, bagaimana pengusaha plaza/ pusat perbelanjaan bisa bertahan sementara omset diraih dari sewa toko.

Benarkah setiap kehadiran plaza baru akan membunuh plaza lama?

Kalau kondisi plaza/pusat perbelanjaan seperti sekarang ini yang tetap bertumpu pada pusat kota saja. Jawabanya IYA. Karena selain persaingan yang tidak sehat, bisa dikatakan plaza yang sudah lama berdiri tidak mengalami perubahan. Misalnya seperti Sinar Deli Plaza, Perisai Plaza yang sama perubahannya tidak terlihat. Setiap konsumen pasti akan memilih plaza/pusat berbelanjaan yang baru ditambah dengan fasilitas yang lebih. Satu yang jadi masalah bertumpu pada plaza/pusat perbelanjaan yang di pusat kota. Artinya daerah pinggiran juga harus dicoba untuk mendapatkan plaza/pusat perbelanjaan. Agar pembangunan merata bisa tercapai.

Jelaskan?

Memang butuh keberanian untuk membangun plaza/pusat perbelanjaan di pinggiran kota. Karena melihat sisi daya beli masyarakat memang rendah. Tapi kalau kita membangun plaza/pusat perbelanjaan harus punya konsep yang jelas atau harus punya spesifikasi terhadap barang yang jual. Sebagai contoh Plaza Millenium, yang dulunya bernama Tata Plaza. Lokasinya kan jauh dari plaza lainnya. Tapi begitu konsep pertama kali Plaza Millenium dibangun yang ingin menjadikan pusat pertokoan komputer,handphone dan elekronik center. Kita memang ingin konsumen punya tempat khusus untuk membeli elektronik dan handphone. Dan akhirnya handphone yang berjalan dengan baik.

Sehingga yang dulunya lokasinya dikatakan tempat jin buang anak. Biasa menjadi kota yang berkembang hampir sama seperti pusat kota. Contoh pusat perbelanjaan yang punya spesifikasi adalah Pajak Ikan,orang tahu itu adalah tempat beli bakal. Petisah tempat orang beli baju di butik-butik yang fashionable. Parahnya hampir semua plaza yang baru dibangun tidak punya konsep. Sehingga yang kuatlah yang bertahan dan yang tidak ya pailit.

Contohnya dan pengaruhnya?

Seperti Club store dan yang lainnya. Tutupnya mereka pasti berimbas kepada penganguran yang membludak. Karena para penganggur yang lepas dari plaza lama belum tentu 100 persen bisa kembali bekerja. Dan memang hanya yang kuat yang bisa bertahan seperti Makro katanya sudah mulai bangkrut. Tapi mereka punya investor Belanda yang kuat. Jadi walaupun ada plaza baru seperti Plaza Medan Fair mereka masih tetap berjalan.

Dari segi pengunjung bagaimana?

Kalau sekarang pasti berkurang. Karena konsumen terpecah belah ingin mengunjungi plaza yang mana. Ditambah lagi dengan kondisi kenaikan BBM sekarang. Orang dituntut untuk berhemat yang berpengaruh kepada daya beli masyarakat yang rendah, sebab kenaikan harga tidak dibarengi dengan kenaikan penghasilan. Memang pada saat jelang lebaran ini pengunjung tidak berkurang. Karena konsumen dituntut untuk berbelanja memenuhi kebutuhan lebaran.

Dari segi omset bagaimana?

Sekarang omset kita berkurang dari 10 hingga 30 persen. Dengan nilai jual yang naik. Dan bisa dikatakan plaza memang memberikan embel-embel discount. Entah itu dengan cara menaikkan harga terlebih dahulu lalu menguranginya. Karena pada dasarnya konsumen kita bisa dengan mudah ditipu.

Lalu bagaimana dari segi hunian?

Sebelum Palladium yang sekarang dibangun dengan giat saja sudah banyak plaza/pusat perbelanjaan yang huniannya kosong. Contoh saja Sun Plaza. Bisa ada beberapa faktor yang membuat hunian tersebut kosong seperti uang sewa yang mahal sampai memang. Tapi memang dengan dibangunnya plaza baru yang masih berorintasi pusat kota maka jelas tingkat hunian yang kosong akan bertambah.

Apa Solusi yang dapat mengatasi masalah ini menurut anda?

Ada banyak cara untuk paling tidak mengatasi hal ini. Seperti Pemko Medan harus punya planning bagus untuk menata keberadaan plaza tersebut. Jangan sampai daerah pinggiran terlupakan, artinya agar bisa daerah pinggiran menjadi kota-kota baru. Masih banyak tempat-tempat strategis sebut saja Marelan, Amplas, Sunggal dan Pancing yang kini sudah membangun I TC. Atau paling tidak ada pengaturan tempat yang strategis jangan hanya bertumpu disatu tempat. Yang kedua, plaza harus punya konsep mau seperti apa yagn akan dihadirkan ke kon sumen. Harus ada spesifikasi barang yang dijual. Kemudian untuk investor yang ingin menanamkan modal dalam pembangunan plaza jangan dipersulit oleh birokrasi mulai dari pembuatan SIUB hingga premanisme.

Apa yang mungkin terjadi dalam waktu dekat jika masih dengan kondisi sama?

Saya prediksi akan ada satu atau dua plaza atau pusat perbelanjaan yang akan tutup. Besar kemungkinan jika kondisi seperti ini tetap tidak menjadi perhatian Pemko. (nina rialita)

Tiga Bulan Bersama Jelita

•December 24, 2007 • Leave a Comment

20-di-pantai-pondok-permai-029.jpgAdik-adikku yang manja 

 September-Desember 2007

Menjadi bungsu kadang menyedihkan, kau tak akan punya teman untuk sharing di rumah. Tapi, aku benar-benar dibuat sibuk oleh adik-adik yang jadi finalis wajah Jelita Sumut Pos. Ikut di ajang yang dibuat mediaku ini tak pernah tergambar. Apalagi bertemu dan bergabung dengan cewek-cewek centil dan anak mama (cape deh). Tapi begitu selama tiga bulan aku harus bercampur baur dengan mereka, jadilah aku ibu-nya anak-anak. Mulai dari minta makan, malam kedinginan (kalau visit to industries), masuk angin dan akh cape deh.

Tapi ternyata adik-adik yang 20  sampai 10 besar ini begitu denganku. Hingga tak terasa aku punya belasan adik. Dan kini, bisa dibilang aku sangat senang bisa kenal dengan mereka. Ini nama-nama mereka dan aku suka menyebut mereka dengan sebutanku sendiri. Pertanda sayangku pada mereka..

 Si Dewasa Dewi Theresia Simanjuntak, si manja Utami Febria, Devi Armaya dan Natalia Kristi, si manis dan cengeng Namira Elastica, si adikku ginting Ulina Sari, si tukang telepon Nur Ainun, si innconet girl Suji Desliana, si pipi chubby Citra Sri Devi, si Jepang Yuli Kartika, si tomboy Yoanna Paramitha, si genit Alfa Dewi Oktora, si petruk yang rame Fitri Rahmadany, si penakut Rizky dan Indah,

Lagu favorit

•December 24, 2007 • Leave a Comment

  fergie01.33 (25/12): Mata belum juga mau terpejam

Ini adalah lagu yang menjadi lagu wajib tiap hari. Yah, walau nggak suka dandanan Fergie saat ini, tapi karena syairnya yang ngena banget, jadi cinta mati sama ni lagu

Fergie 

Big Girls Don’t Cry 

Da Da Da Da

The smell of your skin lingers on me now

Your probably on your flight back to your home town

I need some shelter of my own protection baby

To be with myself instead of calamity

Peace, Serenity

[CHORUS]

I hope you know, I hope you know

That this has nothing to do with you

It`s personal, Myself and I

We`ve got some straightenin` out to do

And I`m gonna miss you like a child misses their blanket

But Ive got to get a move on with my life

Its time to be a big girl now

And big girls don`t cry

Don`t cry

Don`t cry

Don`t cry

The path that I`m walking

I must go alone

I must take the baby steps until I`m full grown

Fairytales don`t always have a happy ending, do they

And I foresee the dark ahead if I stay

[CHORUS]

I hope you know, I hope you know

That this has nothing to with you

It`s personal, Myself and I

We`ve got some straightenin` out to do

And I`m gonna miss you like a child misses their blanket

But I`ve got to get a move on with my life

Its time to be a big girl now

And big girls don`t cry

Like the little school mate in the school yard

We`ll play jacks and uno cards

Ill be your best friend and you`ll be mine

Valentine

Yes you can hold my hand if u want to

Cause I want to hold yours too

Well be playmates and lovers and share our secret worlds

But its time for me to go home

Its getting late, dark outside

I need to be with myself instead of calamity

Peace, Serenity

[CHORUS]

I hope you know, I hope you know

That this has nothing to do with you

It`s personal, Myself and I

We`ve got some straightenin` out to do

And I`m gonna miss you like a child misses their blanket

But I`ve got to get a move on with my life

Its time to be a big girl now

And big girls don`t cry

Don`t cry

Don`t cry

Don`t cry

La Da Da Da Da Da

Bersahabat Dengan Hati

•December 24, 2007 • Leave a Comment

01.30. WIB (25/12)00-heart1.jpg

Bersama malam dan kantung mata

Tahun 2008, tinggal selangkah lagi. Aku nggak mau menjabarkan target. Bagiku, hidupku saat ini sudah sangat menyenangkan. Akh, akhirnya aku mampu bersahabat dengan hati. Pada hati, aku katakan “kau boleh sayangi dia,” Aku nggak perduli orang menyangka aku selingkuh karena menyayangi lelaki yang telah punya pacar. Bagiku, menyayanginya dan jujur pada hati adalah hal yang terpenting. Karena menyayangi pria ini juga, aku nggak berniat untuk merebutnya dari sisi sang kekasih. Jika, pada akhirnya dia juga menyayangi aku, yah ini namanya love fact. Yang pasti pula, aku memang nggak ingin terikat saat ini. Pada hati, aku mampu bicara bahwa hati boleh menyayanginya, berada di sampingnya saat dia sedih, senang dan bingung, tapi jangan pernah berpikir menginginkan raganya.

Allah, aku merasakan ketenangan sebulan ini. Karena hidupku akhirnya bisa tenang, bersahabat dengan hati sangat jauh dari logika. Saat inilah aku mampu lakukan itu. Kepada kekasihnya aku minta maaf. Tapi kuyakinkan aku tak menginginkan lelaki ini. Aku bahagia, karena nggak harus munafik, nggak harus menyakiti diri sendiri. Dan pastinya aku akan menjaga hati untuk nggak menyakiti hari kekasihnya…

Di Medan, Band ini cukup mantap

•December 24, 2007 • Leave a Comment

grup musik Medan favoritkuPepito, Anak Kecil yang Doyan Tembang Kenangan

 

Band yang satu ini cukup punya nama dan fans di Kota Medan. Sebelum telinga penggemar musik Indonesia terhanyut dengan lembut dan jernihnya suara seorang Tompi, orang Medan jauh hari telah akrab dengan suara yang sama. Selain terkenal dengan gaya bermusik akustik, Pepito juga memiliki vokalis yang suaranya mirip dengan Tompi. Terlebih setelah Tompi booming dengan lagu ‘Selalu Denganmu’, Renaldy, sang vokalis cukup sering tampil bersama bandnya membawakan lagu tersebut. Jadilah Pepito selalu disebut dengan Tompinya Medan.

“Itu tergantung penilaian orang saja. Memang banyak yang bilang suara saya dan Tompi mirip. Bagi kami itu nggak masalah. Yang pasti Tompi adalah Tompi, dan Pepito adalah Pepito. Dan kami hadir sebelum Tompi mengeluarkan albumnya, kebetulan konsep musik Tompi sesuai dengan kami, jadi match saja kalau membawakan lagunya,” ujar Renaldy, Vokalis Pepito, kepada wartawan koran ini di Brothers Café, Selasa (14/8).

Cowok yang akrab disapa Aldy ini menjelaskan Pepito sendiri hadir bulan Juli tahun 2001 dengan konsep awal mengusung lagu-lagu tembang kenangan. Konsep yang membuat mereka beda dari kebanyakan band-band anak muda saat ini. Pepito yang hadir karena personilnya tinggal di kawasan Polonia serta teman satu sekolah ini memang doyan lagu sweet memories. “Kami ingin merebut pasar yang didominasi orang tua. Pertama kali kami sering ‘ngamen’ di Warkop Harapan terutama buat pengunjung yang sudah berumur. Namun semua personil Pepito tetap mendengarkan musik-musik baru, sambil meng-up date musik kami,” jelasnya.

Tidak hanya unik pada pilihan lagu tembang kenangan, band ini juga punya nama yang terbilang unik. Nama Pepito sendiri hadir tanpa sengaja. “Pertama kali tampil di Kakak Tua Café, kami menyanyikan lagu tembang kenangan seperti lagu the beatles dan lagu latin. Karena personil yang didominasi orang muda, kami disuruh tampil di ruangan yang namanya Kakak Muda saat itulah nama Pepito muncul yang artinya anak kecil dalam bahasa latin,” kenangnya.

Namun hadir cukup lama sejak tahun 2001, Pepito masih belum memiliki album. Pepito pun lebih nyaman membawakan lagu milik musisi lain tiap kali manggung. “Jujur saja masih ada rasa belum berani untuk membuat album, walau ada niat untuk gabung dengan major label. Tapi karena kesibukan para personil di luar musik kadang menghalangi materi musik kita. Tapi kami juga pernah membawakan satu atau dua lagu milik sendiri. Mungkin untuk sementara ini, kami ingin buat single dulu,” kata cowok yang masih berstatus sebagai mahasiswa ini.

Kini, pentas Pepito tidak lagi sama seperti dulu. Pepito sudah punya jadwal sendiri di café. “Ngamen di Warkop dikurangi selama kami ada kontrak manggung dengan café. Karena ini tanggungjawab band juga dengan café, kan nggak enak saja kalau nanti mereka merasa band yang dikontrak mainnya di warkop,” tegas Aldy.

Tidak hanya di café, Pepito juga pernah manggung di seputaran Banda Aceh. Aldy juga pernah duet sama Naif dan tampil fullband dengan Eddi Silitonga. “Musik ini pilihan semua personil, terkesan tua, tapi dengan campuran sedikit jazzy anak muda sekarang pasti bisa menerimanya,” pungkasnya. (nina rialita)

Data Band

Nama : Pepito

Lahir : Juli 2001

Personil : Renaldy (vokal)

Ipit (gitar)

Andi (rhythm)

sJacky (drum : addplayer)

Musik : Akustik

Aliran Musik : Sweet Memory

Basecamp : Polonia (rumah Ipit)

Manggung : Selasa/Kamis (Brothers Café)

 

Zaman Sekarang, hmmmmm, hatchi. Awas ketularan

•December 24, 2007 • Leave a Comment

MBA? Amit-amit Deh!

Saat lagu Jamrud, berjudul Putri booming beberapa tahun lalu, banyak yang kontra dengan lagu tersebut. Yah, katanya terlalu vulgar. Tapi ini Tetaplah sekolah dan belajar seperti mereka-mereka iniadalah realitas, penggalan demi penggalan syair tersebut menjelaskan betapa remaja yang masih belia mudah terkontaminasi hingga hamil di luar pernikahan. “Putri, harusnya kamu ada di rumah, bikin PR atau les fisika bukan di diskotik. Putri wajahmu memelas pucat pasi, mengurung diri dalam kamarnya. Dan dibilang bunting,”

Pergaulan bebas dewasa ini meresap bak aliran darah. Nggak perduli berapa usia remaja, bahkan yang masih duduk di Sekolah Menengah Pertama (SMP) sekarang sudah pada pintar. Walau sebuah penelitian di Indonesia mengatakan 83 persen, sex pranikah itu dilakukan tanpa sadar. Stigma remaja berpacaran saat ini beranggapan bahwa hubungan seks sebagai ‘tanda cinta’ memperparah hal tersebut.

Kenyataan remaja yang terbuai ini dibuktikan dengan penelitian sepanjang tahun 2000 oleh Pusat Kajian dan Perlindungan Anak (PKPA) atas dukungan Aus-aid juga kedutaan Australia. Dengan melaksanakan program Pendidikan Kesehatan Reproduksi, melibatkan 10 SMA/SMK/MAN di 3 Kabupaten/Kota di Sumatera Utara tepatnya di Medan, Langkat dan Deliserdang dan sebanyak 2500 siswa/i berpartisipasi dalam 4 kali pertemuan selama 2,5 jam pertemuan dan narasumber yang memiliki latar belakang psikolog, kedokteran dan aktifis perempuan.

Di tahun yang sama PKPA melakukan penelitian tentang prilaku seksual remaja dengan melibatkan 910 responden. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran prilaku remaja dan pengetahuan siswa/i SMA dengan seksualitas dan HIV/AIDS. Hasilnya 32,4 persen remaja terlibat dalam aktivitas seksual. Persentase ini dirinci sebagai berikut, ciuman (9,4%), memegang alat vital (10,5 %), hubungan kelamin (23,0 %) dan pelukan (57,2%).

Dari 296 responden tersebut, siswa/i melakukannya dengan, pacar (86,1%), teman dekat (5,4%), orang yang dikenal (2,7%) dan tetangga (2,7%). Dan aktivitas seksual itu terjadi pada usia kurun waktu, 11-15 tahun (71,5%), diatas 16 tahun (22,3%) dan 1-10 tahun (1,4%). Fakta lain menyebutkan, lokasi remaja melakukan aktivitas seksual etrsebut antara lain adalah rumah, di saat orang tua tidak ada (47%) dan kawasan wisata (40,9%).

Masih dari penelitian yang sama, diketahui bahwa sekira 95 persen remaja mengetahui resiko perilaku pacaran yang menyebabkan kehamilan. Sedangkan yang tidak mengetahui hanya sekira 5 persen. Begitupun yang disayangkan dari 95 persen yang mengetahui kehamilan hanya bisa terjadi apalabila adanya coitus (hubungan badan, red). Tetapi apabila melakukan petting atau senggama itu dianggap nggak akan menimbulkan kehamilan.

Selanjutnya untuk mengembangkan pendidikan seks bukan hanya sekadar memberi informasi seksulitas, tapi juga pengajaran ketrampilan, tahun 2001 PKPA mengembangkan sebuah unit Unit layanan Kesehatan Reproduksi dan Jender (PIKIR). Dari data koseling pada Pusat Informasi Kesehatan Reproduksi dan Gender serta Unit Layanan PIKIR Sekolah tahun 2002 dan 2003, jenis kasus yang ada di PIKIR, pacaran sebanyak 5 orang yang langsung tatap muka, 320 curhat dengan email dan 18 orang telepon langsung atau siaran radio. Untuk kasus prilaku sekskual, seperti onani ada 16 orang tatap muka, 160 dengan email dan 42 lewat telepon. Selanjutnya untuk Kehamilan yang Tak Diinginkan (KTD) dengan surat email 1 orang dan 3 orang dengan telepon langsung.

“Dengan adanya PIKIR, kami berharap bisa berguna bagi masyarakat, khususnya remaja. Untuk meningkatkan kesadaran hak reproduksi dan layanan seksual anak remaja bersekolah di Sumut juga PIKIR menyediakan akses informasui dan layanan reproduksi dan seksual bagi remaja bersekolah di Sumut,” ujar Camelia, Koordinator PIKIR, kemarin (16/2).

Begitupun, secara psikologis Married by Accident itu punya dampak psikologis bagi pelakunya. “Ketika remaja tidak mempersiapkan diri, itu namanya juga kecelakaan. Dampak psikolois yang paling parah adalah ketika orang lain juga menjauhi dirinya sendiri. Artinya ketika dia telah memiliki guilty feeling (rasa berrsalah, red) sendiri, itu permasalahan yang harus ditanggung sendiri. Dimana dia harus menjadi seorang ibu saat dia belum mempersiapkannya,” ungkap Milia Asri, Sarjana Psikologi saat menjadi nara sumber, dalam acara menggagas gaya pacaran sehat bagi remaja, Rabu (14/2) lalu.

Kata Milia, saat seseorang memutuskan untuk melakukan sex pra nikah dan kemudian dia hamil. Remaja tidak hanya menghancurkan dirinya sendiri, tapi juga anak yang akan dilahirkannya. “Seorang anak juga butuh status dan hak-hak tertentu. Dan itu sudah menjadi beban bagi dirinya. Bagaimana si individu menangani ini, tergantung bagaimana perkembangan dirinya sendiri. Untuk pribadi-pribadi yang sudah mengenali dirinya sendiri, maka proses coping atau menyelesaikan masalahnya itu lebih cepat,” ujar perempuan berjilbab ini.

Untuk pribadi yang secara psikologis belum mapan, kata perempuan yang juga consern dengan anak autis ini, di masa remaja yang begitu banyak fenomena-fenomena yang terjadi, remaja cenderung nggak bisa coping. “Dampak psikologis yang terparah itu adalah bunuh diri, karena pada akhirnya dia nggak mampu menghadapi permasalahannya sendiri. Stress, depresi sampai pada akhirnya bunuh diri,” tegasnya

Hal yang paling penting untuk mengatasi persoalan ini adalah keluarga. “Sebab sejelek-jeleknya anak, ketika dia kembali ke rumah, maka itu harus menjadi tempat yang paling nyaman. Ketika dia telah melakukan kesalahan, ditambah lagi dari hukuman dari lingkungan akan memperparah kondisi dia. Dalam kondisi ini dituntut keluarga untuk memahami. Karena keluarga biasanya ketika mendapati anggota keluarganya MBA, akan kecewa belum lagi menghadapi masyarakat. Jadi intinya ketika semuanya sudah terlanjur, kita tidak mungkin kembali kebelakang. Hal yang paling utama adalah, bagaimana menjadikan keadaan ini lebih baik,” tuturnya. (nina rialita)

 

Cerpen Hati

•December 24, 2007 • Leave a Comment

`

 

LARA

 

Oleh : Nina Rialita

 

Seserius apakah saat kau menjanjikan dunia penuh tawa?

Haruskah aku percaya atau malah tertawa?

 

Krakk, bunyi itu terdengar keras menghantam hati serta jantungku. Tapi, tak satupun raga mendengar. Orang-orang di sekitar ruangan baca itu tetap sibuk dengan aktivitas masing-masing. Tak satupun menoleh untuk kuatkan batinku. Begitu juga dengan Dana yang masih terus bercerita. Bibirnya komat-kamit seperti mbah dukun sambil menguliti buah apel. Duh, Na tak bisakah kau bunuh saja aku dengan pisau apel itu. Ayo tusukkan saja, please. Aku memang merasa lebih baik mati, bagaimana mungkin aku harus hidup dengan ini. Akh, tak ada perempuan yang bisa sumringah dengan semua ini. Aku ingin menitikkan cairan kesedihan, karena itu adalah obat mujarab untuk setiap lukaku. Tapi tak bisa. Tak bisa.

Aku ingin mati, Na, ingin. Tapi Aku masih punya Tuhan. Tak mau ku biarkan diriku meradang dan membusuk di neraka. Panas api kompor saja, aku sudah menjerit. Bagaimana mungkin aku harus bunuh diri? Please stop Na. Walau mungkin saat itu aku merasa mengakhiri hidup adalah jalan terbaik. Tapi mulutku bagai dikunci balok es. Menggigil bibirku tak mampu merangkai kata. Ayo mata menangislah, hati menjeritlah. Agar Dana tahu, ceritanya buatku rasakan perih mendalam. Na, jangan berkata buruk tentang pasangan jiwaku. Dia tak mungkin seperti itu. Na, dia berjanji padaku merajut awan untuk dijadikan rumah impian.

Kau berkata bagai burung pelatuk yang bising. Kau masih ingat woodywoodpecker? Seperti itulah yang terjadi. Sedari kau bicara, aku ingin kau berhenti, karena dadaku bergemuruh. Ntah marah atau sedih. Yang pasti aku menerawang. Aku berharap ini mimpi. Tapi bukan, ini nyata karena perih ini kurasakan benar. Dan ya, aku harus menghadapi ini. Detik demi detik, menit demi menit menikmati irisan demi irisan yang terus membuat luka hatiku membesar perlahan.

***

Namanya Dana, umurnya 24 tahun. Perempuan sederhana dan blak-blakan. Aku baru mengenalnya sebulan lalu tanpa sengaja. Namun perkenalan yang tiba-tiba di ruang baca itu benar-benar dahsyat. Dan pertemuan yang tanpa sengaja dan berjalan hanya satu jam itu langsung meluluhlantakkan hidupku selama 26 tahun. Percakapan kami diawali dengan senyuman. Padahal selama ini tak jarang kami bertemu dalam satu kesempatan. Kami selalu berlalu dan tak pernah bicara. Bahkan aku sering mengabaikannya, sebab tak pernah satu kalipun kami punya topik sama yang perlu dibicarakan.

Namun hari itu, aku senang ingin menyendiri. Aku menyambangi tempat biasa aku menumpahkan rasa. Saat aku sedang gerakkan pena di selembar kertas. Kau datang. Aku sempat terbelalak, rangkaian kata yang kutuliskan dengan nada kerinduan tentang seseorang langsung ku simpan. Tiba-tiba saja kau duduk di sampingku. Sambil memegang buah apel yang sedang kau kupas, kau bicara tanpa ku minta. “Hei aku Dana, Aku juga punya saudara yang hobi nulis kayak kamu lho. Tapi belakangan, dia sibuk banget. Bulan depan dia married. Wuih, akhirnya. Maklum, pacarannya sudah sembilan tahun. Lama kan? Bla..bla..bla,” ujarmu sambil mengunyah buah asal Kota Malang itu.

Na sudahlah. Hentikan. Cukup. Untuk apa kau ceritakan ini semua. Kita baru berkenalan satu hari dan hanya beberapa menit. Tapi kau sudah bicara panjang lebar. Hah, siapakah kau Dana. Secepat itukah kau akrab dengan seseorang? Kau bahkan tak tanyakan siapa namaku. Atau kau memang tahu siapa aku sebenarnya. Tapi kau pura-pura tak tahu dan sengaja membiarkan aku mendengar ini semua. Ntahlah.

Dia bercerita tentang sosok lelaki yang ternyata pria dalam hidupku. Pria yang selama lima bulan ini mengisi hari-hariku. Ceritanya mengalir deras, sampai-sampai aku tak bisa memberi komentar. Pedih, lirih, semua bercampur jadi satu. Pernikahan? Akh, bagaimana mungkin pria dalam hidupku yang pernah bersumpah akan bersamaku, akan menikahi perempuan lain? Dana cerita dari A to Z. Aku bingung, bagaimana mungkin juga pria itu tak bilang padaku? Mengapa aku harus tahu dari Dana? Tidak, tak mungkin. Dana, aku yakin benar bahwa dia pasangan hidupku. Dia adalah pelangi selepas hujan merenda hari. Dia adalah pemutih yang membasuh hitamnya hati. Aku memanggilnya Kehidupan. Ya, aku merasa hidup saat bersama dengannya. Dana, kau tahu? Selama ini aku hidup dalam kesendirian. Selalu aku yakinkan akan sangat bahagia dan mampu sendiri. Aku kadang lupa bagaimana menjadi perempuan saat aku merasa mampu hidup tanpa pria.

Bayangkan hidupku Dana. Untuk kali pertama, aku tertawa karena memang ingin tertawa. Aku tersenyum, karena memang dia membuatku tersenyum. Kau tahu, betapa sulitnya aku tersenyum. Dan untuk pertama kali, aku merasa jatuh cinta dan benar-benar ikhlas mencintai. Aku mampu tetapkan hati bahwa dia adalah pasangan hidupku. Keyakinan ini, haruskah kembali terkoyak? Haruskah aku kembali keraskan hati untuk bilang, boys are sucks?

Dana, kau datang dan membuat hidupku retak. Tapi kehadiranmu yang tiba-tiba bagai petir di hari hujan, membuatku tersadar. Hah, Tuhan sangat mencintaiku Dana. Dia merancang pertemuan ini, agar aku bisa menuai kejujuran alur cerita hidupku. Bayangkan jika kau tak muncul saat itu, apakah aku harus tetap tersenyum menanti kabar pria itu? Haruskah aku jadi perempuan terbodoh di dunia yang menjadi objek kebohongannya? Dana, hidup ini aneh, penuh teka-teki. Tuhan beserta keagungan menunjukkan kuasa-Nya dengan berbagai cara. Walau hancur, aku cuma ingin bilang, terimakasih atas ceritamu.

Dana, pria yang kau sebut sepupumu itu adalah pria dalam hidupku. Kau tahu Dana? Selepas ceritamu, aku minta penjelasan darinya? Kau tahu apa katanya? Akh, bicara saja dia tak mampu atau dia memang terlalu pengecut untuk berkata jujur. Dia hanya tuliskan pesan lewat email. Gila! Pria itu hanya berkata lewat media high technology itu. Tidakkah aku berhak atas sebuah penjelasan secara nyata? Katanya dia takut kehilanganku, hingga dia membiarkan kebohongan ini terus berlangsung. Katanya dia mencintaiku, tapi tak bisa bersamaku, hauhauhaua. Dia juga tuliskan dia tak bahagia atas pernikahannya, tapi dia sudah memilih jalan itu, kan. Pria yang kau panggil abang itu, benar-benar membuatku nelangsa dan hampir setengah gila.

 

Bagimu aku mungkin gila, karena mencintaimu. Walau memang ku berpikiran begitu. Tapi kadang yang seperti orang gila ini bisa membuatmu mengerti arti mencintai

Kau tahu Dana, di hari pernikahannyapun aku tak diundang. Padahal dengan segenap kekuatan air mata yang ku galang selama sebulan ini, aku ingin datang. Aku ingin buktikan semua narasi kehidupan ini. Siapakah sebenarnya yang sedang bermain dengan kata-kata dusta? Kau atau pria itu. Dana, kau selalu bilang sepupumu itu merajut tali pernikahan atas dasar cinta, karena selama ini mereka memang pasangan kekasih. Sepupumu bilang dia tak bisa menolak pernikahan itu karena terpaksa. Katanya semua sudah dirancang sedemikian rupa, hingga dia tak mampu lagi menghindar. Ntahlah Dana, hingga saat inipun kepalaku selalu dipenuhi tanda tanya. Aku sedang berusaha menghapus satu demi satu pertanyaan itu. Karena aku butuh kedamaian. Dan jawaban atas pertanyaanku pertama adalah ya mungkin saja sepupumu itu punya alasan sendiri untuk melakukan ini semua. Gamang?

 

Lelaki terbang, kembangkanlah sayapmu!

Jelajahi dunia, menelusuri awan dan angin.

Tapi jangan lupa, bahwa kau lelaki bukan jantan

Kau manusia bukan hewan.

Sayapmu itu adalah lukisan khayalan.

Adakah aku menjadi alasan kau terbang?

Atau kau memang hewan yang hinggap dan menjelma di tubuh manusia? Lalu, jika kau bersikeras bahwa kau manusia, pernahkah jantungmu berdetak saat kau sebut namaku?

Tapi tenang saja Dana. Jika kau bertemu dengan sepupumu itu, katakan aku baik-baik saja. Aku tetap menjalani hari-hariku. Aku akan membendung air mata, karena dunia ini terlalu indah untuk diiringi dengan tangisan. Perih membuat kita dewasa. Dan setiap cobaan tidak datang tanpa tujuan. Tak mungkin juga Tuhan berikan kita ujian yang tak mampu kita hadapi. Anggap saja perempuan ini memang tak diciptakan untuk sepupumu. Aku tak akan mengganggu rumah tangga sepupumu. Percayalah. Kuyakinkan orang lain yang jauh lebih baik telah disiapkan-Nya untukku. Karena aku yakin bahwa mencintai itu proses, sama seperti rasa yang kumiliki terhadap sepupumu. Dari perasaan yang tiada arti hingga aku menganggap dia sangat berarti. Aku tak akan membencinya. Apalagi menyimpan dendam. Tak mungkin aku menaruh rona kebencian kepada orang yang pernah sangat aku sayangi. Tak ada lukaku karena pernikahannya, selain luka keyakinanku yang teruntuhkan serta kejujuran yang disembunyikan. Dana untuk yakin itu sangat sulit. Kini, aku belajar untuk kembali yakin.

Kau tahu Dana, aku akan menanti, tetap menanti dan akan menanti. Tapi bukan sepupumu, melainkan lelaki yang memang diciptakan untukku. Selamat datang Dana, salam kenal. Inilah aku, perempuan yang pernah masuk dalam kehidupan sepupumu. Walau mungkin tepatnya, sepupumu yang begitu berani melukiskan gambaran dunia di kanvas kehidupanku. Aku tak bisa bicara panjang lebar tentang hubunganku bersama sepupumu saat itu. Karena kalimatmu terus menghujaniku dengan kepedihan. Aku memilih diam juga karena terlalu kejamlah aku Dana merusak semua rencana pernikahan itu. Jika suatu hari kau tersadar siapa aku sebenarnya. Jangan pernah jumpai aku di tempat kita bertemu. Sebab aku telah mengubur tempat itu dalam-dalam sebagai arena kejujuran yang menyakitkan.

Mungkipun sebulan lalu, ya hari yang diwarnai panas terik itu adalah pertemuan terakhir kita. Dana, aku hanya ingin kau sampaikan pesan untuk sepupumu, jadilah dia lelaki dan imam yang baik bagi pasangan jiwa yang dihadiahkan Tuhan padanya. Hanya itu, sampai jumpai lagi Dana. Oh ya, aku lupa

memperkenalkan namaku. Dana, panggil saja aku Lara.

 

Medan, 6 Mei 2007

Fragile, A date to remember

PTN atau PTS (jangan bingung)

•December 24, 2007 • 2 Comments

Mereka-mereka yang Sukses dari Perguruan Tinggi Swasta

Jangan Hanya Kuliah, Makan, Tidur, Seriuslah Menimba Ilmu

 

Perguruan Tinggi Negeri (PTN) selalu dianggap sebagai batu loncatan yang kokoh untuk meraih kesuksesan. Padahal tak sedikit juga, lulusan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) mendulang keberhasilan dalam usaha dan karirnya. Sebut saja nama-nama di bawah ini yang paham benar bahwa tempat dimana kita kuliah tak menjamin masa depan. Bahwa masih banyak faktor lain yang mendukung kita menjadi ’seseorang’ di masa yang akan datang.

Bagi insan sepak bola nasional, nama Hinca Panjaitan sudah tak asing lagi. Kini, pria lulusan Universitas Nomensen itu menjabat sebagai Ketua Komisi Disiplin (Komdis) Persatuan Sepakbola Indonesia (PSSI). Jabatan yang baru diembannya dalam hitungan bulan setelah dianggap cukup berkompeten menggantikan pendahulunya Togar Manahan Nero yang tersandung kasus suap. Kehadiran Hinca di persebakbolaan nasional sejatinya tak terlepas dari kiprahnya di Indonesia Media Law Enpolicy Center tahun 2000 yang memicu lahirnya UU Pers. Tahun 2003, Hinca pun menjadi anggota dewan pers nasional dan menjadi Ombudsman Jawa Pos Group. Tahun 2005, Hinca menggebrak persepakbolaan nasional dengan mendirikan Indonesia Sport Law Institute yang akhirnya menghantarkan dirinya pada jabatan akhirnya di Komdis PSSI.

Hinca memang bukan satu-satunya lulusan Nomensen yang cukup mampu dikatakan berhasil, namun Hinca adalah contoh yang baik. Pria yang telah melanglang dunia dari tugasnya menggerakkan hukum media sejak tahun 1999 ini mengatakan memilih PTN atau PTS dapat diibaratkan seperti orang yang mau menyeberangi sungai. “Yang terpenting itu bukan jembatannya, tetapi tujuan sampai di seberang sungai. Ada jembatan yang terbuat dari besi atau dari bambu tak jadi soal. Yang terpenting kemampuan kita menyeberangi sungai dengan jembatan apapun. Bahkan jika jembatan tak ada, haruskah kita tak menyeberang sungai? Bukankah yang terpenting bukan pusing memikirkan jembatan, tapi pasti sampai di seberang sungai?,” ujarnya. Ditegaskan pria yang masuk Nomensen tahun 1983 dan tamat 1987 mengambil jurusan hukum tata negara ini menegaskan yang tak kalah penting adalah ketika sampai di seberang sungai, kebanyakan kita tak siap dan tak tahu mau berbuat apa. Bagi pria yang sempat menjadi Pembantu Dekan III di Universitas Atmajaya tahun 1997 ini, sekalipun sudah ada jembatan, apakah itu jembatan besi atau bambu atau batu tak ada jaminan sampai tujuan. “Nah, karena itu untuk menjamin cita-cita ke depan, jangan tunggu, sebab masa depan tak pernah datang kalau tak dikejar. Minta baik-baik, kalau tak dikasih anda harus rebut. Saat ini negara tak mampu menyediakan pekerjaan untuk anda. Mengapa memaksakan kuliah baru mencari kerja. Menurut saya sebaiknya bekerja dulu baru kuliah,” tegasnya.

Kerja apa, sambungnya, apa saja, jualan koran sekalipun. “Dengan jualan koran yang anda dapatkan sedikit tapi informasi banyak. Informasi adalah pengetahuan. Dan pengetahuan adalah kekuatan,” tambahnya.

Tak hanya menyoroti soal tak penting kita kuliah di PTS atau PTN, pria yang juga juga mengajar di St Thomas Medan tahun 1992 ini menekankan jadi mahasiswa itu jangan cuma makan, tidur, kuliah, pulang, makan, tidur lalu kuliah lagi. “Jika anda lakukan ini selama empat tahun. Anda adalah bagian dari kemiskinan Indonesia, bahkan kemiskinan absolut. Sebab anda hanya menggantungkan diri kepada orang tua. Anda tak lebih hebat dari gelandangan di lampu merah berusia 13 tahun. Ia mandiri, anda? Tentu sama sekali tidak,” beber pria yang ngaku masuk jurusan hukum tata negera karena ini adalah fakultas dengan jurusan termurah di Nomensen saat itu.

Untuk itu disarankannya, kepada calon mahasiswa sebaiknya kuliah sambil bekerja. “Ya kerja apa saja. Anak muda Indonesia ayo rebut masa depanmu. Kalau bukan sekarang kapan lagi, kalau bukan anak muda siapa lagi,” pungkasnya.

Sementara itu nama yang berikut yakni Erwin Ilham Syarief adalah Store Manajer Matahari Thamrin. Erwin merupakan lulusan Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) stambuk 1986 dan tamat 1991. Sama seperti Hinca, tentu Erwin bukan satu-satunya yang telah jadi ‘orang’ saat ini dari Universitas yang kini masih dipayungi kemelut internal itu. Sebut saja, Kasim Siyo, Rafiandi (anggota DPRD Sumut) Bomer Pasaribu, Akbar Tanjung, Djohar Arifin adalah nama-nama orang lebih dulu merengkuh nama besar. Erwin sejatinya tak mau disebut dirinya telah sukses, baginya ukuran tersebut sangat personal. Hanya saja Erwin sama seperti banyak calon mahasiswa saat ini yang tak lulus SMPB lalu pasrah hijrah ke PTS. “Saya salah satunya. Tak ada persiapan, saya nyoba UMPTN. Kemudian target saya universitas unggulan di Indonesia seperti UGM dan UI, ya tidak lulus dengan minim persiapan. Lalu saat itu bagi saya dan mungkin hampir kebanyakan orang menganggap UISU adalah alternatif utama PTS. Niatan saya masuk pertanian, namun karena mahal dan kasihan orang tua, saya masuk jurusan manajemen,” ujarnya.

Sempat bekerja di RS Haji Medan selama 9 bulan selepas tamat, tahun 1993 Erwin mengikuti tes Supervisor di Matahari Thamrin. Mengikuti manajement trainning (kaderisasi program untuk management Matahari, red) tahun 1994, Erwin lolos tes di Jakarta sekaligus 1 dari 18 orang dari seluruh Indonesia. Selama enam bulan mengikuti on the job tranning tahun 1995, hingga 1996 Erwin dipromosikan menjadi store manager saat pembukaan Lucky Plaza di Batam. Memasuki pertengahan tahun 2000, Erwin ditugaskan di Jambi dan tahun 2005 kembali ke Medan.

Sampai menjadi pimpinan Matahari Thamrin diakui Erwin berkat kerja keras, makanya kuliah PTS atau PTN bukan harga mati berhasil di kehidupan. “Menurut saya pribadi kuliah dimanapun sangat tergantung bagaimana keseriusan kita menimba ilmu. Mulai dari berorganisasi, membangun intelektual di kampus apakah itu PTS atau PTN pasti bisa berhasil,” ujarnya.

Di Matahari Thamrin sendiri, Erwin yang lulusan UISU malah punya bawahan yang berasal dari UGM, USU dan lain-lain. “Namun harus diakui, mereka-mereka yang lulus dari PTN memiliki fasilitas belajar yang baik. Tenaga pengajar, lab, perpustakaan yang bagus, dan dengan tugas-tugas yang banyak. Nah di swasta dengan tugas sedikit, fasilitas dan staf pengajar beda jadi ada sedikit kekurangan. Makanya untuk itu disarankan bagi calon mahasiswa PTS tidak hanya bergantung dengan kuliah tapi harus aktif menimba ilmu di luar kampus. Kalau kita tahu PTN lebih dari segi pengajaran, kita sebagai mahasiswa PTS memenuhi kebutuhan ilmu kita di luar materi yang diberikan dosen di kampus. Selebihnya PTS dan PTN tak ada bedanya kok,” tambahnya. (nina)