PSSI oh PSSI
(Teringat kasus lama, thanks to Sumut Pos atas penugasannya. Diterbitkan di Jawa pos dan Sumut Pos, Juni 2007)
Bukan Cari Sensasi
Adalah Sekretaris Umum Penajam Medan Jaya Syawal Rifai yang kali pertama mencuatkan isu suap kepada Togar Manahan Nero (ketua Komdis PSSI) dan Kaharudin Syah (anggota Komite Eksekutif PSSI). Ada apa di balik keberaniannya mengungkap praktek haram in? Berikut wawancara Syawal dengan Nina Rialita dari Sumut Pos (Grup Jawa Pos).
————
Apa motivasi Anda mem-blow up kasus ini?
Untuk sepak bola nasional. Kita ingin ke depannya diisi oleh orang-orang yang punya tanggung jawab dan moral terhadap bangsa. Gerbong Nurdin Halid harus diisi dengan orang-orang yang bersih. Karena setiap tahun pasti ada saja masalah.
Adakah orang di balik Anda mengungkapkan kasus ini?
Nggak ada. Cuma insiatif saya saja. Karena kita punya kemauan. Itu saja, tak ada yang lain. Karena kita sudah lama di bola.
Apakah Anda punya masalah pribadi dengan Togar?
Harus ada regenerasi di Komisi Disiplin. Harus diganti, itu keinginan saya pribadi. Karena dia sudah terlalu lama menjabat itu, dari zamannya Agum Gumelar. Apa sengsara dia (Togar) kalau nggak menjabat. Kenapa mesti takut, apa yang kita takutkan? Tekanan? Semua orang tahu gimana Togar. Masalah terima atau tak terima, itu masalah pribadi dia. Soal risiko atau ancaman pasti ada, tapi untuk saat ini belum ada. Saya punya teman-teman wartawan PSSI yang siap membantu.
Anda dibilang cari sensasi mengungkapkan kasus ini, tanggapan Anda?
Sama sekali bukan cari sensasi. Saya sudah bicara dengan Pak Nurdin Halid dan bilang legawa bila Medan Jaya mengundurkan diri. Saya sudah siapkan surat, tapi saya bukan manajemen tertinggi. Jadi, surat itu belum disetujui manajemen. Belum lagi keputusan komdis yang katanya tanggal 12 Juni harus bayar denda. Kalau nggak bayar dapat hukuman tambahan. Kita pun tak tahu apakah hukuman tambahan itu bisa-bisa turun ke divisi tiga. Padahal kami sudah pasrah jika Medan Jaya mundur musim ini dan mempersiapkan tim lebih dulu untuk berikutnya. Tapi, Togar malah buka-bukaan.
Untuk melanjutkan kasus in, apakah Anda punya bukti kuat?
Kita nggak bodoh. Dia punya strategi kita juga punya. Saya punya rekaman omongan Arsiman (Asisten Manajer Medan Jaya Arisman Bermawi, Red) soal pertemuannya dengan Kahar (Kaharudin Syah, Red). Saya juga simpan SMS Arisman soal uang itu. Saya juga punya fotocopy cek senilai Rp100 juta itu. (*)
Mengurai Isu Suap Medan Jaya
Bisa Lebih Kotor
Sepak bola kembali diguncang isu suap. Yang menghembuskan adalah klub divisi satu Penajam Medan Jaya (PMJ). Mereka mengaku telah menyetor Rp100 juta kepada oknum pengurus PSSI. Bagaimana kasus ini terjadi? Berikut penuturan Sekretaris Umum Medan Jaya Syawal Rifai.
—————–
Semuanya bermula saat workshop di Jakarta bulan Maret 2007 yang Medan Jaya sendiri tak ikut. Di situ dari peserta ada yang komplain, yaitu PSP Padang soal putusan yang diketuk PSSI untuk Medan Jaya yang tetap boleh berlaga di divisi satu setelah WO (walk over) pada tahun 2006. Mereka membandingkan dengan kasus Persebaya yang langsung drop ke divisi satu.
Nah, komplain itu dibawa ke komisi disiplin. Kita sebenarnya nggak tahu masalah itu, karena yang mengetuk putusan kan yang tertinggi di PSSI, yakni Nurdin Halid. Ketika sudah diputuskan begitu, kenapa pula harus dibawa lagi ke komisi disiplin. Kita juga tak tahu kenapa Medan Jaya bisa diputuskan berlaga di divisi satu lagi.
Sebenarnya kita sudah pasrah saat Medan Jaya ke divisi dua. Tapi, kita melihat sinyal dari pusat soal Medan Jaya yang bisa bermain lagi di divisi satu musim ini. Makanya kita pun cari investor secara dadakan. Semuanya ini bukan berawal dari saya, tapi dari yayasan karena ada Memorandum of Understanding (MOU) dengan pihak Penajam di Kaltim.
Setelah workshop itu, Yayasan Medan Jaya berkomunikasi dengan Komdis. Saya hubungi Togar (Ketua Komdis PSSI Togar Manahan Nero, Red) akhir Maret via telepon. Minta tolong. Togar bilang: Tenang saja, kalau bisa ditutup dengan ludah, kenapa nggak bisa pake ludah?. Itulah percakapan terakhir.
Setelah itu, Kaharuddin (anggota Komite Eksekutif PSSI Kaharudin Syah, Red) bertanya sebenarnya Medan Jaya milik siapa? Siapa yang bayar? Kemudian Arisman (Asisten Manajer Medan Jaya Arisman Bermawi, Red) bertanya berapa denda yang masuk kantong pribadi.Manajemen Medan Jaya lewat ketua umum Iwan Datuk Adnan akhirnya menyebutkan jumlah Rp100 juta. Lalu jumlah itu disampaikan ke Kaharuddin.
Tanggal 5 April di Hotel Sultan Jakarta, Arisman menghubungi Kahar, menyatakan bahwa uang sudah ada sesuai janji. Di sana kita hanya mau menyerahkan Rp 50 juta. Kahar kemudian telepon Togar. Kata Togar, jangan terima kalau nggak penuh jumlahnya. Akhirnya nggak terjadi transaksi saat itu.
Tanggal 12 April di Hotel Century Jakarta, Arisman menelepon Togar. Togar kemudian mengirimkan sopirnya bernama Andi untuk mengambil uang Rp100 juta itu. Kemudian datanglah Andi dan membawa uang itu. Artinya, suap menyuap ini adalah antara manajemen Medan Jaya dengan Komdis.
Jujur saja, kita sudah diintruksikan untuk tutup mulut. Tidak boleh ngomong kepada siapa saja termasuk media selesai sidang. Tapi, keika Medan Jaya WO lagi pada tanggal 24 April (melawan Persih Tembilahan, Red), Togar malah berkoar.Katanya, Medan Jaya didegradasi dan dikenakan denda Rp50 juta.
Kita sudah ada komitmen tidak ngomong ke media. Tapi, dia yang malah berkoar. Padahal hukuman WO itu belum diterima secara resmi oleh Medan Jaya, tapi sudah di-blow up lewat media. Kita pun emosi dan mengungkapkan masalah ini. Dia buka, kita buka. Dia kotor, kita juga bisa lebih kotor. (nina Rialita)
