Cerpen “Tak selamanya cinta membahagiakan”
Cerpen Dendamnya Dalam Diam Oleh : Nina Rialita“Katakan cinta hanya pada dia yang memberikan rasa ikhlas padamu. Jangan buat dia menunggu kepastian yang tak mampu kau beri. Kecewa bolehlah dua kali. Ketiga kali? Sama dengan kau bunuh dia perlahan. Jangan kau tunggu dia balas dendam!”***
Malam kian larut, bulan menyempit tapi bintang mampu berpijar. Bayu dengan ikhlas meraba malam. Tanpa banyak kata-kata aku rasakan rindu mendalam. Rindu pada belaian Bunda yang kian tegar melewati hari. Bunda yang lupa cara tersenyum juga lupa cara merangkulku. Yang ada hanya dendam…Aku juga tak pernah ingat kapan terakhir kali dia bertanya, “apakah Dedek baik-baik saja?”. Bunda panggil aku Dede, karena aku bungsu dari rahimnya. Ya, Bunda lupa menggerakkan tangannya untuk mendoakan tiap kepergianku dari rumah untuk sekadar melepaskan dahaga atau mengisi dompet masa depan.
Yang ada hanya dendam…
Dendam pada sosok bapak. Pria yang aku panggil bapak, padahal aku juga tak tahu pantaskah dia dipanggil begitu. “Bunda, Dedek mau tanya, bapak kemana koq gak pulang-pulang?”. aku bertanya pada Bunda, pada malam-malam tak pernah kujumpai lagi bapak di rumah saat aku SMA kelas III sekira tahun 1998. Aku melihat bapak, paling sebulan sekali. Datang 60 menit, makan lalu pergi.
Hingga di tahun itu, aku lupa kapan aku terakhir kali menjumpainya. Kadang dua bulan, kadang tiga bulan dia tidak pulang. Hingga aku tak pernah peduli, apakah dia mau pulang ke rumah lagi atau tidak. Padahal aku masih dapat meretas masa lalu, ketika aku berumur lima tahunan. Aku menanti sosok bapak pulang ke rumah tepat di depan pintu. Mata tak jua mau terpejam saat aku tak mendengar langkah atau suaranya di rumah. Tapi kini? Aku tak pernah perduli lagi!.
“Dedek Bapak cari uang,” itu jawaban bunda. Tak pernah jelas, tapi cukup untuk buat aku tak menggerakkan mulut untuk bertanya lebih. Aku pun lupa bahwa aku punya bapak. Yang aku tahu, aku dihadiahi uang jajan dari keringat Bunda menjajakan sayuran dari subuh hingga petang.
Aku juga ingat saat bunda bilang “Dedek, bayar uang sekolahnya minggu depan aja ya, dagangan Bunda sedang tidak lancar,”. Aku cukup tahu bahwa dia sedang kesulitan. Dan bukankah seharusnya bapak ada saat bunda bergelut dengan rumitnya hidup?. Tapi dia entah dimana, tak pernah bilang ada dimana. Entahlah…
Tahun 2000
“Dedek, bapak mulai besok, ada di rumah lagi. Usahanya bangkrut. Bunda harap Dedek bisa ngerti kalau nanti keperluan Dedek untuk kuliah, tidak bisa Bunda penuhi tepat waktu,” ujar bunda padaku saat aku setahun berada di bangku kuliahan. Aku hanya bisa terdiam. Dalam hati aku berkata, bangkrut? Kapan pula bapak pernah berbagi penghasilannya. Kemudian dia berbagi kebangkrutannya!?. Bravo!
Allah memang maha untuk segalanya. Aku dapat pekerjaan sambil kuliah. Aku bantu bunda untuk tidak buatku tergantung padanya lagi. Aku senang tidak menyusahkannya lagi. Tapi cobaan terus bergelut, aku mulai merasakan marah. Tiap hari di rumah, aku hanya melihatnya bangun dan tidur serta makan, pergi entah kemana dan pulang dalam keadaan mabuk. Berteriak diantara kerumunan rumah para tetangga. Memaki dunia atas kebangkrutannya. Hah! Hebat!.
Hingga suatu hari aku pun malu ke luar rumah, menghadapi pertanyaan dunia tepatnya tetangga atas teriakan-teriakan bapak di malam hari. Aku terbiasa, dengan terpaksa. Toh pria yang mabuk itu, dipercaya Allah untuk menjadi bapak bagiku.
Hingga saat itu pun tiba. Saat dimana, tetes air mata menjadi curahan. Hingga tawa pun tak pernah lepas dari kepura-puraan. Hingga saat sumpah serapah selalu keluar dari rongga mulut bunda. Atau terkoyaknya kebusukan yang terbungkus rapi dengan putihnya kain kafan. Bau kebohongan menyeruak keras menghantam hidung, yang sejatinya menginginkan aroma kejujuran.
Pepatah lama pernah bilang, “Sepandai-sepandainya menyimpan bangkai, akhirnya akan tercium juga’. Yah, sepandainya bapak untuk menyimpan rahasianya, akhirnya terbongkar dengan cara keji. “Dede, cepat ke rumah sakit, bapakmu kena stroke,” kalimat tergesa yang diucapkan Pak Udin, temen bapak di suatu siang tahun 2003.
Aku bergegas, menyusul bunda yang sedang menjajakan sayuran di pasar. Dengan gugup, aku katakan pada bunda soal tersebut. Entahlah jauh didasar hati, aku tetap merasakan khawatir pada kondisi bapak. Tanpa banyak rencana aku dan bunda melangkahkan kaki ke rumah sakit.
Aku dan bunda buka ruangan VIP tempat bapak dirawat. Dan kami temui seorang perempuan berdiri di samping raga bapak yang terbaring lemah lengkap dengan infus. Kondisi bapak memang sangat menyedihkan, mulutnya sudah tak normal lagi, seperti kondisi umumnya orang yang kena stroke. Krakkk!!!!! Suara hati bunda yang tak terdengar oleh pengapnya suasana rumah sakit.
Pertengkaran terjadi tanpa diminta. Bunda meminta perempuan itu keluar. Heran, menyelubungi kalbuku saat itu. Senyap, aku berada berdua bersama sosok bapak yang terbaring lemas. Tak berselang lama dalam hitungan menit, bunda masuk dengan mata tertunduk.
Aku bertanya padanya. “Siapa ibu tadi bunda?, teman bapak ya?”. Bunda diam seribu bahasa, aku mencium aroma keanehan. Aku memaksa bunda untuk bicara, aku memaksa! Bunda terduduk di lantai rumah sakit, aku mengikuti geraknya, dengan tertatih dan terbata dia katakan perempuan itu selingkuhan bapak.
Entah kenapa aku tidak terkejut dengan pernyataan itu. Mungkin aku sudah terbiasa dengan gosip perselingkuhan bapak, sejak aku sekolah. “Bunda sudah tahu sejak lama, bunda pikir bapak akan berubah. Lagipula bunda ingin Dedek tak tahu soal ini, agar saat Dedek wisuda nanti bisa ditemani dengan orangtua lengkap,” ujarnya dengan suara lirih tertahan.
“Bunda kenapa tidak cerita soal ini? Dedek sudah besar bunda! Jadi bunda tanggung semua ini sendiri?,” kataku dengan suara lantang yang memenuhi ruangan. Aku mencoba tegar, tapi perlahan tangisku dan tangis bunda tumpah ruah di dalam ruangan yang sesak dengan bau obat-obatan.
Sejak itu bunda menerima bapak dengan rasa sesal dan kepasrahan. Kondisi bapak yang sakit membuat amarah kami teredam. Tapi waktu berjalan, bapak mulai kembali bisa berjalan. Dia kembali menyakiti bunda dengan kebohongan lagi dan lagi. Mulai dari perselingkuhan yang tidak pernah usai. Pertengkaran pun mulai menjadi makanan sehari-hari. Bapak yang sudah ringkih tidak juga menemukan arti hidup menjelang tua. Tidak banyak yang berubah!
Pertengkaran memuncak, saat bunda sudah kehilangan kesabaran. Saat setan berhasil membujuk bunda untuk tidak bersabar. Bunda menangis dengan suara lantang. Bunda menyampaikan keinginannya untuk bapak pergi dari rumah. Pergi untuk bapak yang menurut bunda lebih baik bersama selingkuhannya.
Aku tertawa melihat bapak menolak tawaran bunda. Saat bapak punya kuasa dan harta, dia meninggalkan bunda tanpa dipinta. Kini, saat kuasa tak berdaya, harta pun entah kemana, tidak ada kesempatan untuk berpoya-poya, dia bertahan? Bravo!
Bunda pun memilih mengacuhkannya, rumah pun tidak seperti Baiti Jannati. Bunda menjadi diam, tidak banyak bicara. Kerutan di wajahnya makin tidak terkira. Dia tetap menjadi istri, dengan mencari uang, memasak untuk bapak tapi kata-kata tidak dihadirkannya.
Bapak meradang, dia berteriak, kenapa aku diacuhkan. Bunda tetap membisu, membiarkan bapak meradang. Aku? memilih untuk membisu juga. Logika tidak pernah bisa membantu. Kenapa sakit terus dan terus dihadirkan Bapak ke Bunda. Karena memang aku tidak punya alasan untuk mengerti kenapa.
Suara kokokan ayam berbunyi, jam berdenting keras, adzan shubuh membangunkan umat yang ingin berdoa pada-NYA. Bunda mengambil wudhu, sholat dan pergi ke mencari lemar demi lembar kehidupan. Aku bangun membereskan rumah, dan bersiap menjelang hari dengan aktivitas. Bapak terbangun, makan, nonton TV, mandi dan bergegas pegi entah kemana, yang aku tahu ke rumah perempuan selingkuhannya. Pulang malam, berkumpul bersama teman logikanya. Pulang ke rumah dini hari.
Entah kenapa, dan kenapa bapak bertahan di rumah. Sedang bunda memendam dendam lewat diam. Bunda pun terdiam, tanpa kata. Saat hari tua menjelang dia ditemani pria yang menggangu jiwanya.
Bunda bertanya kenapa tidak ada jawaban. Keikhlasan yang diberikannya sepenuh hati di hari-hari lalu tinggal ampas. Aku mencoba mengerti itu. Juga mencoba mengerti mengapa jalinan yang dulu bunda dan bapak usung atas nama cinta, berubah rasa muak bagi bunda.
Jauhkan bilah pisau dari bunda. Bapak pergilah, sakiti perempuan lain. Tapi jangan bunda, karena airmatanya telah mengering. Dan amarah bunda juga belum dan tak pernah reda. Jauhkan pisau dari bunda, jangan sampai kematian membuat jiwanya tenang.
Aku hilang dan akan menghilang darimu. Dari semua yang kurasakan penat. Kau yang memberikan tangis, tertawapun kau diatas dukaku, tak mengapa. Karena tersakiti aku biasa…(***)

Leave a Reply
You must be logged in to post a comment.